SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Seorang pria mengenakan sarung dan peci tampak sedang menunggui orang yang sedang membersihkan dua makam di area Makam Sedo Mulyo Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Setelah dua makam tersebut bersih dari rumput, pria berpeci lalu memberikan uang kepada orang yang membersihkan makam. Setelah itu, dia ditemani oleh putrinya membaca doa makam keluarganya itu. Pria tersebut bernama Supriyadi (50), seorang peziarah di makam tersebut.

Seusai ziarah Supriyadi sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penyedia jasa pembersihan makam. Dia mengungkapkan, setiap menjelang Ramadan dirinya berziarah ke makam leluhur di Makam Sedo Mulyo. Setiap berziarah, saat melihat makam leluhurnya dipenuhi rumput, dia selalu minta bantuan kepada penyedia jasa pembersihan makam. Dia mengaku sangat terbantu.
Baca juga: Jelang Ramadan, Pembersih Makam di Kaliputu Bisa Kantongi Rp 1 Juta Sehari
“Aku merasa dengan adanya para penyedia layanan jasa pembersihan makam sangat membantu para peziarah untuk membersihkan makam, termasuk diriku. Karena saat pergi berziarah aku tidak mungkin membawa peralatan pembersih rumput. Karena selain merepotkan, pembersihan makam juga makan waktu. Oleh karena itu aku menggunakan jasa layanan pembersihan makam. Proses pembersihan lebih cepat dan aku bisa berbagi rezeki kepada mereka menjelang Bulan Suci,” ujar warga Ngembalrejo, Bae, Kudus tersebut.
Berbeda dengan Supriyadi, Purwasita (29) yang sore itu berziarah ke makam orang tuanya mengungkapkan, selama ini belum menggunakan jasa layanan pembersihan makam. Karena memang selain rutin berkunjung ke makam leluhurnya tersebut, dia mengaku makam ke dua orang tuanya saat ini juga bersih dari rumput dan tumbuhan lainnya,
Pria warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, ziarah kubur ke makam kedua orang tua tidak hanya saat menjelang Bulan Suci Ramadan. Namun setiap Kamis sore, dirinya pasti menyempatkan berkunjung ke makam orang tuanya untuk berdoa. “Karena keadaan makam orang tuaku yang bersih dan rapi tersebut, aku belum menggunakan jasa pembersih makam,” ungkap Itok yang senja itu berziarah dengan ditemani istrinya.
Sementara itu, menurut Santoso (54), penjaga makam sekaligus penyedia jasa pembersihan makam menuturkan, dia bersama temannya yang juga menyediakan jasa serupa memang tidak pernah memaksa para peziarah untuk menggunakan jasanya. Dia mengaku, bekerja saat ada yang meminta, saat tidak ada mereka duduk sambil menunggu para peziarah memintanya untuk membersihkan makam.
“Kami tidak pernah memaksa para peziarah untuk menggunakan jasa kami. Saat tidak ada permintaan kami hanya duduk sambil mengobrol dan akan bekerja saat ada yang menyewa jasa kami. Kami juga tidak mematok harga tertentu, ongkos seiklasnya,” jelasnya.
Pria yang menggantungkan hidupnya di makam sejak usia delapan tahun itu mengungkapkan, meski beberapa peziarah tidak menggunakan jasanya. Namun mereka lupa posisi makam leluhurnya, dengan senang hati dia menunjukan makam tersebut. Karena diakuinya hampir hafal letak dan pemilik nisan yang ada di area makam tersebut.
“Dan aku tidak meminta imbalan untuk itu. Selain melayani pembersihan makam, bersih langsung bayar, aku juga melayani pembersihan makam bulanan, itu juga seiklasnya,” ujar pria yang sudah dikaurniai satu cucu tersebut.

