Tim Hisab dan Rukyat Tak Melihat Hilal dari Atas Gedung UMK, Tapi Yakin Sudah Muncul

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Tiga theodolit dan satu teropong putih terlihat terpasang di beberapa titik lantai atas Gedung J Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (26/5/2018). Alat-alat tersebut digunakan sejumlah orang untuk melalukan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1438 hijriyah.

Perukyat dari Badan Hisab Rukyah Daerah Kudus memantau hilal di UMK 2017_5
Perukyat dari Badan Hisab Rukyah Daerah Kudus memantau hilal di UMK. Foto: Imam Arwindra

Tim dari Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Kabupaten Kudus itu terlihat sudah menyiapkan peralatannya untuk memantau hilal dari gedung enam lantai itu sejak pukul 17.27 WIB hingga 18.01 WIB. Menurut Ketua Tim Ahli BHRD Kabupaten Kudus Muhammad Agus Yusrun Nafi’, dirinya bersama timnya tidak melihat hilal dari Gedung UMK. Hilal tak terlihat karena terhalang awan tebal.

“Saya ulangi adakah yang melihat hilal?” Tanya Nafi’ yang langsung mendapat jawaban tidak dari beberapa perukyat yang berada di lokasi.

-Advertisement-

Dia menjelaskan, dari lokasi yang digunakan rukyat awal Ramadan menurutnya sudah memenuhi kriteria. Tidak terhalang oleh pohon maupun benda-benda lainnya. Namun karena cuaca yang kurang mendukung, karena pemantauam hilal terhalang oleh awan. “Lokasi ini sudah memenuhi kriteria. Lebih baik dari pada di Colo. Kalau di Colo selain tempatnya kurang representatif juga akan terhalang oleh kabut,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Sirajul Hannan, Jekulo, Kudus.

Nafi’ memberitahukan, tinggi hilal yakni delapan derajat. Dengan umur bulan 14 jam, 41 menit 55 detik. Menurutnya jarak matahari dengan posisi hilal (elongasi) mencapai sembilan derajat dengan keadaan miring ke selatan. “Mohon kita fokus selama 30 menit untuk melihat hilal,” tambahnya saat memberikan peringatan kepada para perukyat.

Menurutnya dengan posisi tinggi hilal delapan derajat sudah dipastikan dapat melihat hilal. Karena minimal tinggi hilal untuk bisa dilihat yakni kurang lebih dua derajat. Namun karena terhalang oleh awan tebal. Hilal belum bisa dilihat dari gedung UMK. “Di Kudus hanya di UMK saja. Namun ini hilal sudah bisa dilihat di Manado, Tanjung Kodok dan Blitar,” terang Nafi’ yang juga Ketua Lajnah Falakiyah NU Cabang Kudus.

Nafi’ meyakini, puasa sudah dapat dilakukan besok Sabtu (27/5/2017). Namun alangkah lebih baik masyarakat menunggu hasil sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Untuk yang melakukan rukyat hari ini ada BHRD Kabupaten Kudus, Kudus Astronomi Club, Qudsiyyah dan Pon Pes Sirajul Hannan Jekulo, Al-Kawaakib Kudus,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus Noor Badi yang datang di lokasi rukyat menuturkan, kegiatan rukyat dan hisab yakni bagian tradisi dan upaya untuk mengetahui awal penentuan awal bulan puasa. Menurutnya, upaya tersebut tidak dilalukan di Kudus saja, melainkan juga di daerah-daerah lain. “Jadi disebar, ada yang dari daerah utara, selatan dan daerah lainnya untuk mengetahui hilal sebagai penentu awal puasa, ” ungkapnya.

Selain penentuan awal puasa, metode rukyat juga dilakukan untuk menentukan awal tahun baru hijriyah dan satu syawal. Menurutnya, nanti dari hasil tersebut akan dilaporkan ke Kementerian Agama untuk menjadi bahan pada sidang isbat.

Dia mengungkapkan, secara perhitungan tinggi hilal yang mencapai delapan derajat seharusnya hilal sudah bisa dilihat. Namun karena awan yang tebal, akhirnya hilal belum bisa terlihat. “Tahun kemarin kita sudah ikhtiyar. Hari ini kita juga ikhtiyar. Untuk keputusan kita ikuti hasil sidang isbat saja,” tambahnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER