31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Tekan Kasus DBD, Ini Strategi yang Dilakukan DKK Semarang

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang mencapai angka 857 pada tahun 2022. Dari angka tersebut, 30 orang meninggal dunia. Kasus tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Dari kasus tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang Abdul Hakam mengaku masih mencoba mencari strategi untuk menekan angka kasus DBD.

Baca juga: Kasus DBD di Kota Semarang Naik Hingga 3 Kali Lipat

-Advertisement-

“Kasus naiknya cepat sekali, dari 2020, 2021, 2022, kita sampai sekarang masih mencoba cari strategi bagaimana menekan DBD. Karena mau dibilang demam berdarah atau sebagainya virusnya memang dari nyamuk itu. Zaman dulu kita memang belum bisa membedakan DB atau DBD, sekarang sudah bisa,” katanya saat di temui di Kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang, Selasa (10/01/23).

Adapun strategi yang akan mulai dilakukan yakni, akan memperbaiki dari segi lingkungan dengan mengelola sampah.

“Strategi pertama yaitu memperbaiki lingkungan, seperti mengelola sampah dan menguras air agar tidak tumbuh jentik-jentik nyamuk. Apalagi banyaknya banjir yang melanda di beberapa wilayah di Semarang. Karena banjir banyak yang menimbun air, nah penimbunan air itu juga bisa jadi sarang nyamuk,” ujarnya.

Sebab menurutnya, kalau lingkungan diabaikan, bisa jadi sumber nyamuk, karena nyamuk suka dengan lembab. Semakin lembab, nyamuk semakin suka. Saat nyamuk bertelur, jumlahnya pun langsung banyak, bisa sampai 300 telur.

Selanjutnya, untuk usia dewasa yang mempunyai penyakit komorbid, pihaknya mengimbau untuk selalu diperhatikan. Penyakit tersebut seperti penyakit diabetes, hipertensi, dan sebagainya.Terakhir ia juga mengimbau untuk memperkuat imun agar terhindar dari inveksi virus DBD.

Baca juga: Tekan Angka Kasus Demam Berdarah, Dinkes Kota Semarang Akan Gunakan Metode Wolbachia

Sedangkan mengenai projek nyamuk wolbachia yang telah digarap akhir tahun lalu, sampai sekarang Hakam mengaku belum bisa digunakan. Sehingga ia berharap bisa segera mungkin digunakan, karena dengan adanya projek tersebut bisa menekan kasus DBDB.

“Sampai sekarang nyamuk projek wolbachia belum bisa digunakan, kita masih menunggu pusat. Harapanya kalau 2023 wolbachia sudah bisa digunakan, paling tidak nanti bisa menurunkan DBDB, karena dari nyamuk sudah bisa kita kendalikan,” tutup Hakam.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER