BETANEWS.ID, SEMARANG – Untuk menekan tingginya jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, menyiapkan metode Wolbachia. Yaitu, salah satu cara untuk menekan pertumbuhan kasus demam berdarah.
Wolbachia, merupakan bakteri yang nantinya akan dimasukkan ke nyamuk Aedes Aegypti. Sehingga, kalau ada nyamuk Aedes Aegypti yang ber-wolbachia ada kumannya tersebut, maka dia akan menjadi mandul, atau tidak bisa menetas. Wolbachia sendiri merupakan bakteri alami yang aman untuk manusia dan lingkungan.
Metode tersebut, adalah sebuah metode yang mengawinkan nyamuk Aedes Aegypti yang dikembang biakkan di dalam ember yang dilubang. Setelah nyamuk kawin dengan nyamuk yang sudah memiliki Wolbachia, peranakan nyamuk baru tidak lagi memiliki virus DBD.
Baca juga: Waspada Mom, Hingga Mei 2022 Tercatat 229 Anak di Kudus Terkena Demam Berdarah
“Bakteri ini fungsinya untuk menekan replikasi virus yang ada di tubuh nyamuk. Maka nyamuk nantinya tidak bisa membawa virus DBD. Ketika tidak bisa membawa virus DBD tentu tidak bisa menularkan ke manusia,” kata Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Semarang, Nur Dian Rachmawati.
Kota Semarang, katanya, menjadi salah satu pilot project Kementerian Kesehatan dan World Mosquito Program (WMP) untuk penerapan ternak nyamuk, bersama lima kota lainnya.
Sampai saat ini, pihaknya mengaku, masih menunggu roadmap dari kementerian terkait pelaksanaan program ternak nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia ini. Di tingkatan RT dan RW pun sudah dilakukan sosialiasi soal program ini.
“Penyebaran nyamuk akan lewat telur. Jadi nanti telurnya kita titipkan melalui ember yang akan kita serahkan ke masyarakat. Telur nyamuknya akan menetas berkembang dan populasi nyamuk Wolbachia ini mengantikan populasi nyamuk yang tidak memiliki Wolbachia,” jelasnya.
Pihaknya melanjutkan, program ternak nyamuk ber-Wolbachia untuk menekan kasus DBD sebelumnya sudah berhasil dilakukan di Sleman dan Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Harapannya, juga bisa menekan kasus DBD yang ada di Kota Semarang.
Ia pun menjelaskan dalam ternak ini, ada tiga skenario dalam melakukan transfer Wolbachia ke generasi selanjutnya. Pertama, jika nyamuk jantan yang ber-Wolbachia dan dilepaskan keluar ke alam terbuka, nantinya nyamuk jantan kawin dengan nyamuk betina liar, maka nyamuk betina tersebut tetap bertelur tetapi tidak dapat menetas.
Kedua yaitu jika nyamuk jantan ber-Wolbachia akan kawin dengan nyamuk betina ber-Wolbachia maka akan memproduksi telur. Anak-anak nyamuk tersebut tidak dapat menularkan dengue lagi.
Baca juga: DBD di Demak Capai 140 Kasus, Mranggen Tertinggi
Terakhir yaitu jika nyamuk betina yang ber-Wolbachia dilepaskan dan kawin dengan nyamuk jantan liar maka telur yang dihasilkan adalah anak-anak nyamuk yang tidak memiliki virus dengue.
Dari tiga skenario tersebut, dari pertimbangan dampak pada manusia, lingkungan, dan hewan, akan dipilih skenario untuk melepaskan nyamuk betina ber-wolbachia. Karena, jika melepaskan nyamuk jantan ber-Wolbachia maka populasi nyamuk akan berkurang.
Editor : Kholistiono

