Kesenian Ini Harus Ada Setiap Acara Rasulan di Dusun Keruk Gunung Kidul

BETANEWS.ID, YOGYAKARTA – Gelaran Rasulan di Dusun Keruk, Kelurahan Banjarejo, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta tahun 2022 ini terlihat meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya saat pandemi. Di mana, dua tahun tepatnya pada tahun 2020 dan 2021 Rasulan di Dusun Keruk dilakukan secara sederhana.

Dua tahun, Rasulan dilakukan degan sederhana. Hiburan yang ditampilkan pun sekedar untuk syarat belaka. Wayang kulit digelar tidak semalam suntuk, melainkan hanya setengah malam. Sementara untuk tahun 2019, Rasulan digelar dengan sangat meriah. Parade atau kirab budaya selalu ditunggu-tunggu masyarakat.

Kesenian Reog Janjidor. Foto: Budi Prasetyo.

Baca juga: Melihat Kemeriahan Tradisi Rasulan di Dusun Keruk Gunung Kidul

-Advertisement-

Tahun 2022, menjadi titik awal kebangkitan usai pandemi. Meski belum semeriah tahun 2019, kirab budaya sudah mulai dilakukan dengan skala kecil. Kirab budaya hanya diikuti sekitar 100 orang. Meski begitu, tak mengurangi kesenangan dan kekhidmatan acara Rasulan itu sendiri.

Tokoh masyarakat Dusun Keruk Supriyono menjelaskan, dua tahun pandemi, Rasulan tidak seperti saat ini.

“Sekarang setelah dua tahun lepas pandemi, Rasul meriah lagi. Rasulan kembali ramai. Yang jelas Alhamdulillah, pandemi sudah berlalu, dan Rasul kembali ramai banyak pertunjukan, ramai pengunjung dan banyak yang datang,” ujar Supriyono.

Terlepas dari pandemi, banyak hal-hal menarik dan unik dari Rasulan di Dusun Keruk. Masyarakat di tempat itu memberikan sedekah nasi yang dikumpulkan di balai dusun. Setelah dilakukan doa bersama, nasi dibagikan kepada para pengunjung dan penonton yang datang dari dusun-dusun lain.

Selain itu, empat pedukuhan yakni Keruk I sampai Keruk IV masing masing menampilkan gunungan yang menjadi ciri khas setiap tradisi Rasulan Keruk. Di dalam gunungan ini lah nasi dikumpulkan dan dibawa ke balai dusun sebelum dibagikan kepada para pedagang dan pengunjung.

Di dalam acara kenduri juga disediakan nasi uduk serta ingkung yang selanjutnya dimakan bersama-sama, baik masyarakat Dusun Keruk itu sendiri maupun masyarakat yang datang. Itu semua menjadi simbol rasa syukur dan kebersamaan antarwarga Dusun Keruk.

Baca juga: Tradisi Perang Obor di Tegalsambi Jepara Digelar Meriah

Hal menarik lainnya, setiap Rasulan Dusun Keruk, wajib diadakan pertunjukan wayang kulit dan reog tradisional Jingjor. Untuk itu, pada saat pandemi selama dua tahun tetap diadakan pertunjukan wayang kulit meski tak dilaksanakan semalam suntuk.

“Wayang kulit wajib diadakan karena sudah menjadi tradisi turun temurun. Kalau dua tahun kemarin, hanya wayang kulit climen, sekarang sudah semalam suntuk. Climen itu artinya pagelaran wayang kulit dilakukan kurang lebih hanya 3 jam ,” jelas Supriyono.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER