
Siang itu, terik matahari di Kampung Spoorlaan, Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, terasa menyengat. Sejumlah warga tampak duduk di bawah pohon, di depan sebuah warung. Satu di antara warga yang duduk mengobrol adalah Wawan Purwanto (43), Ketua RT 2, RW 3.
Iwan, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Tim Liputan Khusus Beta News, tentang kondisi bangunan yang disebut sebagai stasiun kereta api pertama di Indonesia, milik Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS) Maatschappij. Ia bersama keluarganya, juga kebetulan menempati bekas bangunan stasiun itu.
Iwan mengatakan sebelumnya tidak mengetahui bahwa tempat yang ia tinggali merupakan bangunan stasiun. Dirinya baru tahu setelah ada peneliti kereta api yang datang untuk melihat bangunan yang kini berada di tengah pemukiman warga tersebut.
Dulu malah saya kira gudang, ternyata stasiun. Waktu saya kecil masih lihat rel di depan (rumah) sini. Masih ada kereta lewat, kita duduk melihat di pinggir rel.
Wawan Purwanto, Ketua RT Kampung Spoorlaan
“Sebelumnya saya malah tidak tahu. Saya lahir ya sudah jadi perkampungan seperti ini. Saya tahunya waktu masih SD, ada peneliti kereta api dari Jogja dan Bandung datang untuk melihat stasiun pertama di Indonesia. Orang-orang tua kami dulu tidak pernah cerita,” jelas Iwan.
Spoorlaan yang terletak di selatan jalan arteri Kota Semarang merupakan kampung padat penduduk. Rumah-rumah warga saling berhimpit. Jalan kampung yang dulu dilalui kereta api juga terbilang sempit. Bangunan yang disebut stasiun pertama, sama sekali tak tampak dari depan, karena sudah berdiri tembok-tembok warga.
Menurut Iwan, saat dirinya masih kecil ada rel kereta di depan rumahnya. Dia juga sering melihat kereta melintas di lokasi yang kini menjadi jalan kampung. Bangunan yang ia tinggali dulu masih sangat tinggi. Iwan mengira, bangunan itu bekas gudang.

“Dulu malah saya kira gudang, ternyata stasiun. Waktu saya kecil masih lihat rel di depan (rumah) sini. Masih ada kereta lewat, kita duduk melihat di pinggir rel. Keretanya mengangkut semen. Tidak aktif itu saya sudah SD, sekitar tahun 1980 karena banjir,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, di sana masih ada empat rumah yang terdapat sisa-sisa peninggalan stasiun dan belum diganti. Sisa-sisa itu berupa genting, seng blenden, plafon kayu, pilar penyangga, ornamen lengkung, dan lubang angin.
“Lainnya sudah hilang. Karena di sini daerahnya terkena rob, jadi sudah lebih 10 kali meninggikan rumah. Dan sekarang tinggal ini saja yang tersisa,” ujarnya.






