Kisah Sri Sulasih, Buka Warung Demi Menjaga Resep Warisan Sang Ibu

Di sisi sudut Lapangan Rendeng, sebuah gerobak hitam dengan spanduk merah mencolok menarik perhatian siapa pun yang melintas. Dari balik gerobak itu, tampak Sri Sulasih (42) sibuk menyiapkan pesanan pelanggan dengan tangan cekatan.

Sri mengaku sudah sekitar tiga bulan terakhir berjualan di Lapangan Rendeng. Setiap hari, Ia membuka lapak sejak pukul 06.00 hingga 15.00 WIB.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Lontong gado-gado dan lontong tahu telur dibanderol demgan harga Rp12 ribu per porsi, sementara nasi pecel bisa dinikmati hanya dengan Rp7 ribu saja. Semua disajikan dengan bumbu kacang gurih buatan sendiri yang jadi ciri khas warung ini.

-Advertisement-

Baca juga: Kisah Didi, Warga Bandung yang Sukses Jualan Cimol & Kentang di Kudus

Sri ternyata bukanlah pendatang baru di dunia kuliner. Ia merupakan penerus usaha sang ibu, yaitu Sulastri, yang sudah hampir 45 tahun berjualan di Pasar Kliwon dulunya.

“Di sini baru berjualan sekitar tiga bulan yang lalu, tapi sebelumnya Ibu dulu yang jualan di Pasar Kliwon, itu sudah sejak lama, hampir 45 tahun jualan di sana,” ujar Sri saat di temui beberapa waktu lalu.

Pindah ke Lapangan Rendeng menjadi Keputusan besar bagi keluarga Sri. Selain mencari suasana yang lebih terbuka, mereka juga berharap bisa menjangkau pelanggan baru.

“Kalau di Pasar Kliwon dulu ramai, apalagi pas pagi-pagi. Kalau di sini masih agak sepi, biasanya yang beli ya warga sekitar yang olahraga disini. Tapi ya kami tetap bersyukur,” ujarnya.

Baca juga: Ngalah Jadi Berkah, Kisah Penjual Kebab yang Raup Ratusan Ribu per Hari

Bagi Sri, berjualan bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga melanjutkan perjuangan dan menjaga warisan cita rasa dari ibunya.

“Yang penting rasanya tetap sama seperti buatan ibu. Pelanggan pasti akan datang,” tambahnya.

Penulis: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER