BETANEWS.ID, KUDUS – Pada pagi itu Selasa (9/9/2025) sekira pukul 09:00 WIB galeri Muria Batik Kudus yang beralamat di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah masih sepi pengunjung. Ribuan kain batik bermotif khas Kudusan tertumpuk rapi dan beberapa ada yang digantung.
Di ruang lain, beberapa remaja terlihat sedang telaten menyolet. Nyolet merupakan proses pewarnaan kain batik pada bagian-bagian tertentu dari motif yang terlihat, seperti bunga atau daun.Â
Baca Juga: Teknologi RDF Rp4,5 M Segera Diterapkan di TPA Tanjungrejo Kudus, Segini Kapasitasnya
Di sudut lain, sang pemilik Muria Batik Kudus, Yuli Astuti dengan sabar dan telaten mengajari dan memberi arahan kepada tiga disabilitas tuna rungu. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Kemampuan bahasa isyarat yang seadanya, membuat Yuli tetap mengeluarkan suara sesuai yang dikatakannya ketika berkomunikasi dengan para penyandang disabilitas tersebut, atau Yuli menyebutnya dengan bahasa Tarzan.
Kurang lebihnya, Yuli meminta kepada satu karyawannya yang penyandang disabilitas tuna rungu yakni Lia Ayu Lestari (24) mengajari membatik dua siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Cendono yang sedang Praktek Kerja Lapangan (PKL). Kedua siswa tersebut juga disabilitas tuna rungu.
Saat itu, ajaran yang diberikan adalah tahapan membatik ngiseni atau mengisi bagian dalam motif yang kosong dengan ornamen atau isian-isian tertentu menggunakan canting.Â
Beberapa tahun terakhir, Muria Batik memang menerima PKL membatik untuk para siswa SLB, termasuk Ayu yang kini menjadi karyawan.
Yuli menuturkan sejak tahun 2013 Muria Batik Kudus mulai bekerja sama dengan SLB, mulai dari PAUD, TK sampai setara SMA. Namun, saat itu kerja samanya hanya sebatas kunjungan, pengenalan serta pengetahuan proses keterampilan membatik saja.
“Kemudian saya punya pemikiran untuk memberikan kesempatan bagi para siswa-siswi SLB untuk magang membatik di Muria Batik selama lima bulan. Sembari assesment potensi mereka. Alhamdulillah selama ini kerja sama dengan SLB Cendono Kudus cukup berhasil. Ada beberapa siswa senang dan mampu atau bisa membatik,” tuturnya.
Untuk pemberian pelatihan membatik kepada siswa SLB, kata Yuli, memang penuh tantangan dan kendala. Para penyandang disabilitas cenderung mempunyai emosi yang tidak stabil, jadi ia harus lebih bersabar dan telaten.
“Selain itu juga terkendala bahasa untuk siswa disabilitas penyandang tuna rungu. Mereka juga ada yang tidak bisa baca tulis sama sekali, jadi instruksinya kepotong-potong. Jadi ya, komunikasinya menggunakan bahasa isyarat seadanya atau kami menyebutnya bahasa Tarzan,” ucapnya dengan tersenyum.
Belum lagi, lanjutnya, mereka yang perempuan (anak berkebutuhan khusus) itu kebanyakan mood swing. Mungkin, dikarenakan mereka biasa kumpul di SLB dengan anak-anak berkebutuhan khusus, sementara di Muria Batik digabung dengan realita dunia kerja.
“Jadi sebulan pertama yang kita lakukan ke mereka (anak berkebutuhan khusus) adalah pendampingan untuk lebih ke mentalnya agar nyaman dan kerasan, meski terkadang menangis dan bertengkar antar teman. Mereka itu lebih sensitif. Jadi pintar-pintar kita untuk menenangkan,” bebernya.
Meski begitu, ungkap Yuli, ketika dilatih dan mereka menemukan kepercayaan diri, potensi anak berkebutuhan khusus tersebut sangat luar biasa sekali. Ketika sudah menekuni, mereka totalitas menjalani dan fokus.
“Memang ada plus minusnya. Anak-anak berkebutuhan khusus juga beda-beda karakter. Tetapi selama yang saya amati, ketika berlatih dan menjalani tahapan-tahapan membatik, mereka bisa fokus dan hasilnya cukup bagus,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Yuli melalui Muria Batik Kudus akan berkomitmen memberikan pelatihan membatik bagi anak-anak penyandang disabilitas. Ia pun berharap, pelatihan tersebut bisa bermanfaat dan kelak bisa jadi mata pencarian mereka.
“Kami berkomitmen akan memberdayakan para penyandang disabilitas. Tujuannya agar mereka punya keterampilan dan kelak bisa punya pengasilan dan tak direndahkan orang lain,” harapnya.
Melalui wawancara tertulis penyandang disabilitas tuna rungu, Ayu mengaku beruntung bisa kenal dengan pemilik Muria Batik. Warga Desa Pasuruan Kidul, Kecamatan Kaliwungu Kudus tersebut juga mengucapkan terima kasihnya, karena diberi keterampilan membatik.
“Rasanya senang banget diajari membatik dan diberi kesempatan bekerja di Muria Batik. Bagi saya ini harapan baru dan saya ingin fokus menjalaninya,” ucap Ayu melalui tulisan.
Total saat ini di Muria Batik Kudus terdapat tujuh penyandang disabilitas. Selain Ayu yang sebagai karyawan, ada 6 siswa SLB Cendono, Kudus yang PKL dengan berbagai kebutuhan khususnya. Di antaranya Nafis dan Fazik penyandang disabilitas tuna rungu yang sudah PKL di Muria Batik Kudus selama lima bulan.
Mengenal Muria Batik Kudus
Yuli menyampaikan, mulai merintis usaah batik dan diberi nama Muria Batik Kudus sejak tahun 2005. Hal tersebut, bermula dari keprihatinannya melihat kepunahan batik khas Kudus, karena berhentinya regenerasi.
Padahal, menurutnya, Batik Kudusan mempunyai keunikan tersendiri dibanding batik daerah lain. Motif Batik Kudusan terdapat foklor atau unsur cerita rakyat tentang Kota Kretek. Misal, motif batik kudusan kapal kandas yang ternyata bercerita bahwa beberapa wilayah Kudus dulu pernah jadi lautan.
Kemudian, ada juga motif Parijoto, tanaman endemik Gunung Muria yang biasanya dikonsumsi ibu hamil agar anak lahir kelak bagus rupawan maupun cantik. Serta ada motif kretek lainnya dan hampir semua motifnya mengandung cerita rakyat.
“Upaya menghidupkan batik khas Kudus pun berbuah manis. Produk Muria Batik Kudus lambat nan pasti mulai dilirik para pecinta seni pewarnaan kain menggunakan malam tersebut. Tidak hanya di Kudus saja, tetapi penjualannya juga merambah ke seluruh Indonesia,” terangnya.
Pada tahun 2017, kata Yuli, Muria Batik Kudus memutuskan menjadi mitra binaan PT Pertamina. Kala itu, Ia berharap, dengan menjadi binaan perusahaan negara yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas) tersebut, pemasaran produk Muria Batik Kudus bisa lebih luas lagi.
Meski di awal bergabung, kesempatan ikut pameran masih di lokal Provinsi Jawa Tengah saja. Namun, hal tersebut tak membuatnya kecil hati. Ia percaya Pertamina akan memberikan kesempatan Muria Batik Kudus untuk ikut pameran dengan skala yang lebih besar.
Dan benar, melihat kiprah Muria Batik Kudus menghidupkan batik kudusan yang lama punah. Serta mampu memberikan dampak ke masyarakat terutama anak-anak muda, Pertamin pun memberi kesempatan Muria Batik Kudus untuk ikut pameran skala nasional, bahkan Internasional. Di antaranya, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand.
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Diganti Purbaya, Begini Tanggapan Pengusaha Rokok di Kudus
“Dengan ikut pameran-pameran skala nasional dan internasional yang difasilitasi oleh Pertamina tentu membawa dampak luar biasa bagi Muria Batik Kudus. Pemasaran kini tak hanya di Indonesia, tapi juga merambah mancanegara,” ungkapnya.
Dia berharap kerja sama dengan Pertamina bisa terus berlanjut. Hal tersebut tentu bakal memacu Muria Batik Kudus untuk terus berkarya mengeluarkan produk-produk batik tulis yang bernilai seni tinggi tanpa melepas identitas lokal, Kudusan.
“Dengan begitu batik khas Kudusan akan terus terjaga. Masyarakat yang diberdayakan juga makin banyak, termasuk para penyandang disabilitas,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

