31 C
Kudus
Minggu, Februari 15, 2026

Meski Mahal, Ini Cara Perawatan Mudah Domba Dorper Jadi Indukan untuk Perbaiki Genetik

BETANEWS.ID, KUDUS – Di balik tubuhnya yang besar dan harga yang tidak murah, domba dorper asal Australia ternyata membutuhkan perawatan ekstra. Namun tidak bagi pengelola Unit BUMDes Randu Gandeng Bersemi Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, yang kini tengah serius memperbaiki genetik ternak di desanya. 

Domba jenis dorper yang dikembangkan tersebut, berharga Rp58 juta untuk satu ekor. Diharapkan domba itu menjadi indukan yang dapat memperbaiki genetik ternak di daerahnya. 

Baca Juga: Isu Manipulasi Data Penerima TKGS Mencuat, Pemkab Kudus Siapkan Langkah Antisipasi

-Advertisement-

Sejak pertama kali berdiri pada Desember 2024 lalu, Randu Gandeng Farm hanya memiliki 27 ekor dombos (domba Wonosobo) betina. Kini, jumlahnya melonjak menjadi 53 ekor dengan beragam jenis, mulai dari dombos, dorper jantan, hingga hasil persilangan F1, F2, dan lokal.

Kepala Unit BUMDes Randu Gandeng Bersemi, Noor Rochman menyebut, perkembangan itu tidak lepas dari ketekunan dalam merawat setiap ekor domba. Menurutnya, dorper bukan hewan yang sulit dipelihara, tetapi membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.

“Kalau domba dorper, kesehatan harus terus dipantau. Minimal dua atau tiga bulan sekali harus disuntik vitamin,” bebernya.

Selain itu, asupan konsentrat untuk pakan juga harus diberikan. Supaya asupan makanan bagi dorper bisa menjaga berat badan supaya tetap stabil.

“Karena kita harus menjaga ternak agar indukan jantan dorper ini bisa dikawinkan dengan domba lokal, agar hasil persilangan antara dorper dan dombos ini bisa maksimal,” jelasnya.

Selain soal nutrisi, kebersihan kandang juga jadi kunci. Setiap hari kotoran harus dibersihkan agar domba tetap sehat dan terhindar dari penyakit.

Baca Juga: 128 Sekolah di Kudus Jabatan Kepsek Kosong, Disdikpora: ‘Jika Tak Segera Diisi, 2026 Berpotensi Bertambah’

Meski penuh tantangan, Noor Rochman bersyukur perkembangan jumlah ternak cukup pesat. Dari semula hanya 27 ekor kini menjadi 53 ekor, termasuk 27 ekor dombos, 12 ekor F1, satu ekor F2, sembilan ekor anakan, tiga ekor hasil crossing, serta satu ekor dorper jantan.

“Alhamdulillah, perlahan jumlahnya bertambah. Kami optimistis ke depan bisa terus berkembang,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER