BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris angkat suara terkait adanya 187 titik kumpul kaum homoseksual yang tersebar di Kota Kretek. Menurutnya hal tersebut harus ditangani dengan serius, karena Kudus merupakan Kota Santri.
Sam’ani menyampaikan, bahwa titik kumpul kaum homoseksual di Kudus harus segera dideteksi. Pihaknya akan meminta bantuan pihak kepolisian, TNI dan tentunya Satpol PP untuk melakukan penyisiran.
Baca Juga: CFN Kudus Siap Digelar Akhir Pekan Ini, Ratusan Pedagang Diverifikasi
“Jangan sampai Kudus ini jadi tempat transaksi kaum homoseksual atau LSL (Lelaki seks dengan Lelaki),” ujar Sam’ani saat ditemui Aula Balai Kelurahan Mlatinorowito, Kecamatan Kota, Rabu (30/7/2025).
Diberitakan sebelumnya, hubungan sesama jenis LsL jadi pemicu terbanyak kasus Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/Aids) di Kabupaten Kudus. Bahkan, di kabupaten yang punya julukan Kota Santri ini terdapat ratusan titik bertemu atau hotspot untuk para kaum homoseksual ini.
Manajer Penanggulangan Kasus HIV/AIDS Komisi Penanggulangan Aids Kudus, Eni Mardiyanti, mencatat, sebelum pandemi hotspot komunitas LsL di Kudus itu kurang dari 100 lokasi yakni antara 80 sampai 90 lokasi. Setelah pandemi atau tepatnya pada tahun 2023 ketika dilakukan maping, terjadi lonjakan sangat signifikan.
“Di tahun 2025 belum kita lakukan maping lagi. Terakhir kita lakukan maping itu ditemukan ssbanyak 187 hotspot atau titik bertemu komumitas LsL di Labupaten Kudus,” ujar Eni kepada Betanews.id beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Eni menuturkan, bahwa hotspot komunitas LsL di Kabupaten Kudus bisa dikatakan paling banyak se-Karesidenan Pati. Bahkan, komunitas beberapa daerah tetangga berkumpulnya juga banyak di Kudus.
“Di antaranya komunitas LsL Jepara, Pati, Demak itu berkumpulnya juga di Kudus. Makanya hotspot (titik bertemu atau kumpul, kaum homo di Kabupaten Kudus ini sangat banyak sekali,” bebernya.
Menurutnya, keberadaan hotspot komunitas homo di Kabupaten Kudus persebarannya hampir merata di 9 kecamatan. Tidak hanya di kota, di pinggiran kota juga sudah banyak terdapat titik kumpul bagi pelaku sesama jenis tersebut.
“Namun tak dipungkiri, yang paling banyak masih di Kota. Dan terbanyak lagi ada di Taman Balai Jagong. Di lokasi tersebut tak hanya sudut, beberapa warung juga jadi titik berkumpul komunitas LsL,” ungkapnya.
Dia mengatakan, hotspot pada komuntas LsL adalah titik kumpul pada malam hari. Biasanya mereka berempat, lima atau enam orang bergerombol di sebuah tempat, misal angkringan, cafe, atau rumah makan. Sesuai dengan strata sosial mereka.
“Biasanya LsL yang strata sosialnya elit, hotspot mereka di kafe. Tetapi yang strata ekonominya rendah, titik kumpul mereka bisa di angkringan atau sudut-sudut Taman Balai Jagong,” sebutnya.
Baca Juga: Banyak Bocil di Kecamatan Undaan Tergabung Gangster, Kades Berugenjang Ngadu ke Bupati Kudus
Disinggung terkait pendeteksian hotspot komumitas LsL, Eni mengungkapkan, hal itu memang tidak boleh sembarangan. Tidak.serta merta beberapa pria nongkrong di suatu tempat, kemudian dideteksi jadi hotspot komunitas LsL.
“Saya sudah puluhan tahun melakukan pendampingan di bidang ini. Di antatanya, di titik kumpul tersebut ada yang saya kenali sebagai LsL, selain itu mereka itu ada ciri khasnya. Baik dari perilaku atau gestur dan bicaranya itu kelihatan, mereka homo atau tidak. Termasuk juga ada bahasa yang jadi khas mereka, saya juga tahu,” jelasnya.
Editor: Haikal Rosyada

