BETANEWS.ID, KUDUS – Setiap Minggu pagi di Car Free Day (CFD) Kudus, antrean kecil tampak tak pernah sepi di salah satu sudut keramaian. Di sanalah Sudarno, pria berusia 74 tahun, dengan sepeda tuanya yang penuh muatan pentol menjadi magnet bagi para pemburu jajanan tradisional.
Sudarno tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa bahkan pejabat daerah, semua rela mengantre demi mencicipi pentol hangat racikannya. Tak jarang, dagangannya ludes hanya dalam waktu tiga jam, bahkan sebelum matahari meninggi.
Baca Juga: Menilik Tempat Penggilingan Daging Pertama di Kudus, Sejak 1989 Hingga Kini Masih Eksis
“Saya mulai dari jam enam sampai jam sembilan. Biasanya habis sekitar tiga kilo tepung setiap harinya,” ujar Sudarno.
Sudarno membeberkan, bahwa melayani pembelian mulai dari Rp1.000. Terkait porsi penjualan, ia mengaku tak pernah menghitung porsi dagangannya.
“Yang penting semua bisa beli, semua bisa makan,” ujarnya.
Namun di balik kelezatan pentolnya, tersimpan kisah hidup yang menginspirasi. Sudarno memulai usaha ini pada 2003, bukan karena peluang, tapi karena terpaksa. Ia terjebak dalam kondisi sulit lantaran sakit dan harus mencari biaya pengobatan.
Dari sanalah semangat juangnya tumbuh. Dengan sepeda tua dan modal seadanya, ia mulai menjajakan pentol keliling kota.
Setiap pagi, ia bersama istri dan anak-anaknya menyiapkan pentol-pentol hangat dari dapur rumah. Rasa yang konsisten dan pelayanan yang ramah membuat dagangannya punya tempat di hati banyak orang.
“Kami berjuang bersama sebagai keluarga. Saya bersyukur istri dan anak-anak saya selalu mendukung. Kami jaga kualitas, karena pelanggan itu sudah seperti keluarga juga,” bebernya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Hidup Sendiri, Nenek 85 Tahun Ini Pilih Jualan Sosis dan Tak Mau Bergantung Pada Orang Lain
Kini, pentol Sudarno tak hanya jadi favorit anak-anak. Bahkan pejabat di Kudus pun disebut kerap mampir untuk membeli.
“Bukan cuma anak-anak yang suka, Pak Sekda juga sering beli,” ucapnya sambil tersenyum bangga.
Penulis: Elsa Putri Aprilia, Mahasiswa PPl IAIN Kudus
Editor: Ahmad Rosyidi

