BETANEWS.ID, KUDUS – Sorak tawa disertai tepuk tangan warga Desa Klumpit, Gebog, Kudus, pecah ketika Sugih Dwi Santoso (53), menjawab dengan tegas saat ditanya panitia, apa yang mereka diskusikan siang itu. Pria murah senyum yang akrab disapa Sugih itu pun menjawab dengan lantang, “tai.” Sontak tawa warga yang hadir di Mushola Nurush Syibyan pun pecah.
Sebelumnya, Sugih diminta maju untuk menjawab teka-teki oleh panitia, dengan menempelkan kertas sesuai skema jamban yang benar. Ekspresi Sugih yang lucu dan ragu-ragu memang sudah memancing tawa warga di sana. Meski begitu, dia berhasil menjelaskan sembari menerapkan skema yang benar.
Setelah selesai mempraktikkan skema jamban yang benar, Sugih sudi berbagi kesan kepada Betanews.id tentang kegiatan tersebut. Menurutnya, warga Desa Klumpit sangat antusias akan adanya program yang diberikan USAID IUWASH Tangguh dan Djarum Foundation yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kudus itu.
Baca juga: Pemkab Kudus Gandeng USAID IUWASH Tangguh Atasi Persoalan Sanitasi di Kudus
“Kami sangat senang dengan adanya program ini. Warga juga semangat dan antusias. Kami senang jika diajak hidup sehat. Ini tadi kami diajarkan tentang mengelola tinja biar tidak mencemari lingkungan,” ungkap Sugih, Rabu (25/9/2024).
Warga Dukuh Pedak, RT 02 RW 01 itu, juga mengaku, kebanyakan jamban warga masih belum standar. Menurutnya, edukasi tersebut sangatlah penting agar warga Kudus paham akan sanitasi dan air minum bersih.
Perwakilan USAID Indonesia, Trigeany Linggoatmodjo, menjelaskan, pihaknya melalui program USAID IUWASH Tangguh, kini menjadikan Kabupaten Kudus sebagai daerah dampingan terbarunya. Kudus menjadi kabupaten ke-39 yang masuk dalam program dampingan.
“Hari ini kami melakukan pelatihan partisipatif dengan masyarakat, agar mereka dapat mengidentifikasi air minum dan sanitasi yang aman untuk rumah tangga mereka,” terangnya.
Baca juga: Pemkab Kudus Gandeng USAID Tuntaskan Eliminasi TBC di 2028
Program yang baru dimulai pada Agustus 2024 itu, sudah menyiapkan sejumlah kader desa dengan diberikan pelatihan. Hasil dari pelatihan itu, para kader kemudian melakukan identifikasi partisipatif di enam desa. Selain Desa Klumpit, ada Desa Gribig, Tanjungrejo, Klaling, Mejobo, dan Kesambi.
“Target kami adalah hingga akhir 2024, enam desa ini sudah selesai dalam hal identifikasi kebutuhan air minum dan sanitasi. Hasilnya nanti akan kami bawa ke pemerintah Kabupaten Kudus untuk ditindaklanjuti,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

