BETANEWS.ID, KUDUS – Lahir di Kudus 20 Agustus 1956, KH Syafiq Nashan merupakan putra dari Nashan Amir dan Qudsiyyah. Setelah beranjak dewasa dan sudah mendapat bekal ilmu agama dari orang tua, ia kemudian menempuh pendidikan agama di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Kajen, Pati.
Setelah sekian tahun menimba ilmu di sana, KH Syafiq Nashan kemudian diminta salah satu kiai di Mathali’ul Falah, yaitu KH Abdullah Salam untuk menemani putranya melanjutkan studi ke Makkah.
“Suatu ketika mbah Abdullah Salam meminta KH Syafiq Nashan untuk ikut menemani anaknya yaitu Kiyai Minan ke Makkah. Namun, karena keterbatasan biaya, beliau sempat dilarang bapak dan ibunya,” ungkap M Halibul Atthor saat ditemui di Ponpes An-Nur, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Sejarah Kiai Telingsing, Ulama Tionghoa Penyebar Agama Islam di Kudus
Setelah meyakinkan kedua orang tua, KH Syafiq Nashan akhirnya mendapat izin. Meski dengan keterbatasan ketuangan, orang tuanya tetap berusaha mencari uang untuk biaya pendidikan KH Syafiq Nashan.
Bahkan, ibunya juga ikut turut andil membantu dengan cara menjual perhiasan. Meski sudah semaksimal mungkin mengumpulkan uang, akan tetapi biaya yang dikumpulkan hanya cukup untuk keberangkatannya saja.
“Singkat cerita, beliau tetap bertekad untung berangkat. Jadi beliau di sana, ya, bekerja serabutan jadi tukang cuci piring, kondektur bus, tukang pemotong bawang juga, sembari belajar dengan Sayyid Muhammad Al Maliki,” terangnya.
Baca juga: Belum Ada Sumber Sejarah Wafatnya Sunan Kudus, Tradisi Buka Luwur Tak Dinamai Haul
Pada 1985, KH Syafiq Nashan akhirnya kembali ke Kudus untuk menikah dengan Basyiroh. Setelah menikah, kemudian ia kembali lagi ke Makkah bersama sang istri. Selama di Makkah pada 1986-1988, KH Syafiq Nashan dikaruniai tiga orang anak dan memutuskan untuk pulang ke Kudus.
“Karena abah sosok ulama yang ahli dalam hadits, sehingga masyarakat tertarik untuk ikut ngaji dengan beliau. Selain ahli dalam hadis, beliau juga ada sanad mengaji di Makkah,” ungkap menantu KH Syafiq Nashan itu.

