31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Kecintaan pada Barongan Menuntun Doni Jadi Pengrajin Barongan yang Andal di Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan kayu cangkring tampak di sekitar rumah Doni Sarwoko (31) di Jalan Sekar Malang, Desa Mlati Lor RT 06 RW 02 Kecamatan/Kabupaten Kudus. Kayu-kayu itu menjadi bagian penting di kehidupannya lantaran jadi sumber rezeki keluarga.

Seperti siang itu, Doni tampak sedang menyelasaikan barongan pesanan untuk Agustusan. Bagi dia, Barongan sudah menjadi jalan hidupnya, tak hanya sebagai pengrajin tapi juga pemain. Kisahnya bergelut dengan kesenian yang sudah menjadi Warisan Budaya tak Benda (WBtB) Kudus itu dimulainya sejak masih belia atau pada 2006. Saat masih remaja itu, ia sudah aktif terjun ke dunia barongan, meski keluarganya tak ada darah seniman.

“Saat kecil memang suka lihat permainan barongan di desa saya, seperti saat acara 17 Agustusan,  tradisi galang dana, acara tirakatan. Lalu tahun 2006 lulus SMP saya mulai main barongan,” ungkap ayah satu anak tersebut, Rabu (2/8/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Jelang Agustusan, Pengrajin Barongan di Mlati Lor Kudus Kebanjiran Pesanan

Doni mengungkapkan, menjadi pemain barongan pertama kali di desa tetangga, tepatnya di Desa Loram. Waktu itu, Ia berperan sebagai pemain barongan dan terompet.

“Dulu pemain terompet hanya sedikit, ada dua orang saya dan teman saya. Belajar barongan sekitar setengah tahun setelah itu, belajar terompet setengah tahun,” Jelas laki-laki asli Desa Nganguk itu.

Setelah sekitar tiga tahun berlalu, Doni mencoba keahliannya dalam memainkan Jaepong. Hingga saat ini, doni berperan sebagai pemain Jaepong dan terompet. Untuk bayaran, Doni tidak bisa mengungkapkan secara pasti.

“Untuk di Jaepong saya pegang kendang, setiap permainan beda-beda gajinya, kadang sehari Rp300-350 ribu sedangkan kalau setengah hari Rp200-250 ribu,” katanya.

Setelah cukup sukses jadi pemain, Doni lalu mencoba peruntungan membuat barongan dan perlengkapannya pada 2017. Awal membuat barongan doni membutuhkan waktu yang lumayan lama, sekitar dua minggu sampai pada tahap pengecatan, satu bulan untuk tahap finishing.

Baca juga: Niat Produksi Barongan untuk Lestarikan Budaya Kudus, Subandi Malah Kewalahan Layani Pesanan

“Awalnya iseng karna lihat pohon mangga di rumah teman akhirnya coba buat barongan, ternyata teman-teman suka,” Jelas laki-laki 31 tahun itu.

Saat ini, Doni bisa menyelesaikan barongan dalam waktu satu minggu. Meski dalam proses pembuatan tidak selalu berjalan mulus.

“Karena kayu yang digunakan adalah jenis kayu cangkring jadi, banyak penunggunya. Kalau mau nebang pohon harus ada orang pintar, ada ritual jadah pasar, kadang ada penunggu yang ikut di kayunya jadi buat badan lemes saat pengerjaan, itu yang menghambat proses pengerjaan,” ungkapnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER