Gus Miftah Ungkap Pernah Temukan Kasus Radikalisme Parah di Kudus, Karanganyar, dan Boyolali

BETANEWS.ID, SOLO – Pendakwah kenamaan Tanah Air, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah diketahui sering kali menggelar Dialog Kebangsaan dengan masyarakat di berbagai wilayah di Tanah Air. Melalui dialog itu, ia mengaku menemukan berbagai temuan kasus radikalisme.

Dari berbagai wilayah yang pernah ia kunjungi, Gus Miftah menyebut ada tiga daerah di Jawa Tengah yang pernah terjadi kasus radikalisme yang cukup parah, yakni di Kabupaten Kudus, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Boyolali.

“Saya pernah mendapatkan satu fakta, di daerah Karanganyar seorang siswa maju ke depan. Dia mengatakan, bagaimana pendapat Gus Miftah kalau justru yang mengajak kita membenci pemimpin adalah guru kami sendiri? Padahal itu ASN berarti dia dibayar oleh negara maka digaji oleh negara menggunakan fasilitas negara tapi ternyata untuk menjelek-jelekan negara,” ungkap Gus Miftah.

-Advertisement-

Baca juga: Tim Densus 88 Tangkap 2 Terduga Teroris di Sukoharjo dan Boyolali

Kemudian, selanjutnya di Kabupaten Boyolali. Di sana terdapat seorang guru yang mengharamkan anak didiknya untnuk hormat kepada bendera Merah Putih karena dianggap thogut atau perilaku syirik.

“Tahun kemarin saya mendapati guru yang melarang anaknya untuk hormat merah putih di Boyolali, memprovokasi anaknya untuk membenci pemimpin dan lain sebagainya. Padahal dia seorang ASN yang digaji oleh negara,” bebernya. 

Kemudia, dulu ia juga menemukan kasus radikalisem di Kabupaten Kudus. Ada salah seseorang yang menganggap bahwa Negara Indonesia tidak bisa maju karena menggunakan sistem Khalifah.

“Pas di Kudus Itu ngeri sekali itu Indonesia harusnya Khilafah kalau kita mau maju harus Alquran sebagai pedoman. Saya tanya, tunjukkan kepada saya negara yang berhasil dengan sistem Khilafah, dia jawab Arab Saudi,” ungkap Gus Miftah.

Baca juga: Kesbangpol Jateng Resmikan Pusat Layanan Cegah Terorisme

“Saya bilang berarti kamu tidak belajar atau tidak menggunakan sistem Khilafah tapi Al-Mamlakah kerajaan dari bani As-Saud sampai sekarang Muhammad bin Salman. Artinya itu pemahaman yang salah,” lanjutnya.

Dengan adannya temuan kasus praktik radikalisme seperti ini, menurut  Gus Miftah, menjadi sangat penting  untuk terus digencarkannya sosialisasi pemahaman tentang pentingnya menanamkan nilai ideologis Pacasila dan cinta  terhadap Tanah Air.

“Bahkan, di kalangan ASN sendiri itu hampir merata, bahwa yang disampaikan oleh pemerintah terutama dalam hal ini Badan Intelijen ada beberapa daerah atau tempat yang terpapar radikalisme dan intoleransi itu benar bukan isapan jempol,” kata dia.

Baca juga: Mantan Napi Teroris di Yayasan Gemas Salam Dapat Hibah Mobil dari Pemkot Solo

Beberapa hari yang lalu, di Kabupaten Sukoharo dan Kabupaten Boyolali dilakukan penangkapan terhadap terduga teroris. Oleh karena itu, menurut Gus Miftah masyarakat juga harus memahami tentang pentingnya menerapkan ideologi Pancasila oleh warga negara  Indonesia.

“Rata rata terorisme itu berangkat dari radikalisme, karena mereka menganggap sudah yang paling benar, menyalahkan orang lain, tidak mengakui Pancasila sebagai ideologi sehingga bahkan mereka halal untuk membunuh orang yang berbeda agama, paham,” kata dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER