BETANEWS.ID, JEPARA – Sejak tahun 2015, warga Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara yang dulunya mayoritas memproduksi keranjang bambu, perlahan mulai beralih menganyam engkrak atau pengki.
Chambali (71) menjelaskan para pedagang buah saat ini lebih senang mengemas buah dagangannya ke dalam peti berbahan plastik maupun kayu. Sehingga pesanan keranjang bambu tidak lagi ramai seperti dahulu.
Baca Juga: Pendapatan Daerah Jepara 2024 Diproyeksikan Rp2,3 Triliun, Realisasi Pajak Akan Digenjot
“2015 itu yang tadinya pada bikin keranjang mulai beralih membuat engkrak, karena buah tempatnya sudah dipindah pakai peti. Kalau pakai keranjang rusak katanya,” katanya pada Betanews.id saat ditemui di kediamannya, Sabtu (22/7/2023).
Hal tersebun tentunya membuat perajin di wilayah tersebut berfikir dua kali untuk tetap menjadi penganyam bambu. Namun, secerca harapan itu muncul dari produknya yang berbentuk pengki bambu.
Pengki yang diproduksi perlahan namun pasti mulai diminati dan menjadi senjata andalan warga dari gempuran produk-produk plastik. Pengki bambu pun laris manis di pasaran.
Chambali mengatakan, biasanya pengki bambu buatannya diambil oleh para bakul untuk dijual ke pemilik toko bangunan untuk memindahkan muatan pasir ke dalam truk. Bakul tersebut berasal dari beberapa daerah di Jepara.
“Dari daerah Sidi, Teluk, Jepara, pokoknya banyak yang dari toko material, Nalumsari juga ada yang beli kemarin,” ujarnya.
Karena tidak dikejar target, dalam sehari Chambali biasanya mampu menyelesaikan 10 – 15 buah pengki. Satu buah bambu utuh menurut Chambali dapat dijadikan sekitar empat buah engkrak.
Hal ini karena, dalam membuat engkrak bahan bambu yang digunakan hanya di bagian kulitnya. Berbeda dengan anyaman bambu lainnya, yang menggunakan bagain dalam dari bambu. Sehingga menghasilkan iratan bambu yang lebih halus.
“Kalau cepet ya dapat 15, kalau nggak cepet paling 10, kalau siang juga berhenti dulu istirahat,” katanya.
Baca Juga: Nasib Tragis Ekstrakurikuler Ukir di Kota Ukir, Susah Cari Tenaga Ahli
Untuk bambunya sendiri ia biasa membeli dengan harga Rp 20 ribu per ikat yang berisi sekitar 13 potong buah bambu. Sedangkan harga jual dari engkraknya biasa di beli dengan harga Rp 8 ribu per buah.
“Kalau dari sini biasanya saya jual delapan ribu per ekrak,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

