BETANEWS.ID, DEMAK – Demi menekan dan mencegah kasus bullying terjadi di wilayahnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak mendirikan Desa Ramah Perempuan dan Anak di 14 desa.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengharap, program yang dibuat oleh Pemkab Demak tersebut dapat menurunkan angka kasus bullying maupun kekerasan yang terjadi di dalam keluarga.
Baca Juga: Pasir Laut Demak akan Dikeruk untuk Pembangunan Tol Semarang-Genuk
“Pada masa Covid-19 angka perceraian di Jawa Tengah mengalami kelonjakan, hal itu berbarengan dengan munculnya kasus kekerasan pada perempuan dan anak,” ujarnya saat menghadiri launching desa ramah perempuan dan peduli anak di Balai Desa Weding, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Senin (19/6/2023).
Berdasarkan data dari Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, tercatat ada 14 desa atau kelurahan diresmikan menjadi Desa Ramah Perempuan dan Anak, serta kampung Keluarga Berencana (KB) di 21 desa atau kelurahan.
Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini juga menyatakan, program itu juga mampu menekan kasus stunting dan kemiskinan. Ia berharap keberadaan Desa Ramah Perempuan dan Anak bisa menyebar ke desa-desa yang lain.
Bupati Demak, Eistianah membeberkan jika tingkat kemiskinan di wilayahnya masih terbilang cukup tinggi daripada 35 kabupaten di wilayah Jawa Tengah.
“Tentunya kita akan tindak lanjuti berkenaan hal tersebut. Seperti belum meminum pil merah, padahal sudah diberikan. Mungkin masih perlu adanya pendampingan,” terangnya.
Baca Juga: Jelang Iduladha, Warga Kalianyar Demak Malah Kemalingan 10 Kambing
Di samping itu, hal yang bisa dibanggakan adalah turunnya kasus stunting di Kabupaten Demak. Menurut Eisti, dari data Studi Status Gizi (SSG) Indonesia, Demak menempati peringkat kedua setelah kota Semarang.
“Kalau stunting di Kabupaten Demak tahun 2022 secara SSG merupakan kabupaten kedua setelah kota Semarang terendah di Jawa Tengah. Ini menjadi bukti semangat kita dan semua OPD,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

