BETANEWS.ID, JEPARA – Siapa sangka jika mainan anak-anak yang diproduksi di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara ini ternyata mampu menembus pasar ekspor sampai ke Malaysia. Tetapi meskipun begitu para perajin mainan anak di desa tersebut tergolong belum sejahtera.
Disebutkan Ketua Kelompok Perajin Kitiran (KPK Mekar Jaya), Sumarno, belum bersatunya perngrajin menjadi salah satu faktor kurangnya kesejahteraan mereka.
Baca Juga: Karena Permintaan Pelanggan, Helma Kini Produksi Peci Ecoprint
Adanya persaingan harga antar sesama perajin membuat mereka kesulitan untuk menaikkan harga. Sehingga para pengrajin sulit untuk berkembang dari segi ekonomi.
Di desa tersebut memang sudah terbentuk kelompok atau badan usaha bersama yang harapannya bisa menjadi wadah para perajin, salah satunya untuk menyamakan harga. Namun dari jumlah ratusan para perajin mainan anak di desanya, hanya 32 orang yang bergabung dalam kelompok tersebut.
“Kalau bicara kendala sebenarnya satu, mahalnya bahan baku setelah adanya pandemi Covid-19. Kemudian karena adanya persaingan harga. Kalau ada pembeli misalnya beli di saya kitiran ini Rp 1200, di perajin lain boleh Rp 1000 kan tetep milih yang sana. Harapannya ada kelompok ini kan biar harga bisa sama, cuma dari ratusan perajin hanya 32 yang gabung,” jelasnya pada Betanews.id saat ditemui di rumahnya, pada Rabu (14/6/2023).
Belum banyaknya warga yang mau bergabung menjadi anggota kelompok menurut Sumarno, karena dalam anggapan mereka ketika sudah menjadi anggota akan lebih mudah untuk mendapatkan bantuan serta modal dari pemerintah.
Padahal bagi Sumarno dengan sesama perajin berkumpul dalam satu wadah kemudian bisa saling sharing soal sulitnya bahan baku dan menetapkan harga pasaran.
“Padahal kita bertemu bukan hanya mengharapkan itu (bantuan) , tapi bisa sharing soal bahan baku dan penetapan harga. Karena ketika sudah disepakati harga itu kan hanya mengikat anggota kelompok itu, yang di luar ya nggak. Makanya kami agak susah mengendalikan itu (harga), ” ungkapnya.
Sumarno kemudian bercerita awal mula terbentuknya Kelompok perajin tersebut karena pada saat itu terjadi kesenjangan bantuan dari pihak desa kepada sesama perajin. Di desanya perajin mainan terdiri dari mainan kitiran, trotokan, dan mainan tarik berbentuk hewan. Para perajin mainan kitiran karena letak rumahnya jauh dari balaidesa menjadi jarang mendapat bantuan.
“Kemudian saya dipercaya sama sesama perajin untuk mendirikan kelompok tersebut dan alhamdulillah sekarang bantuan dari desa sudah rata ke semua perajin di Desa Karanganyar,” ungkapnya.
Baca Juga: Tak Ingin Sekadar Jadi Perajin Kain Tenun Troso, Doni Bangun Brand untuk Pasarkan Produknya
Kemudian di tahun 2010, desanya mendapat bantuan dari pihak pemerintah untuk membuat Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang diberi nama Berkah Jaya. Harapannya kelompok tersebut dapat menjadi wadah bagi sesama perajin untuk membuat mainan di sebuah tempat yang sama sehingga menjadi lebih Sentral. Tetapi hal tersebut tidak memungkinkan untuk terwujud ketika melihat kenyataan di lapangan.
“Karena kondisinya memang setiap warga ini di masing-masing rumahnya sudah usaha sendiri. Jadi kalau misalkan mau dibuat Sentral juga terkendala lahannya siapa yang mau dijadikan tempat usaha. Sehingga dalam berjalannya ya sudah biarkan begini saja, ” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

