Meski Jadi Ekstrakurikuler Wajib di SMP, Peminat Seni Ukir di Kalangan Pelajar Jepara Tetap Minim

BETANEWS.ID, JEPARA – Untuk menjaga kelestarian seni ukir di Jepara, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara telah mewajibkan seni ukir menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler wajib bagi pelajar di tingkat SMP. Namun dalam praktiknya di lapangan, kebijakan tersebut belum mampu menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap seni ukir.

Plt Kepala SMPN 1 Welahan, Setyo Ningsih, menuturkan, untuk menumbuhkan minat anak terhadap seni ukir melalui kegiatan ekstrakurikuler saja belum efektif. Apalagi ditambah dengan minimnya pengajar yang memenuhi syarat untuk menyampaikan materi tersebut kepada siswa. 

“Saat ini seni ukir memang menjadi ekstrakurikuler wajib bersama dengan Pramuka dan BTQ yang dulunya jadi pelajaran muatan lokal (mulok),” jelasnya pada Betanews.id saat ditemui di ruangannya, Sabtu (6/5/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Menelusuri Jejak Ukir Jepara di Masjid Mantingan, Bukti Cinta Ratu Kalinyamat Pada Sultan Hadlirin

Menurut dia, kegiatan ekstrakurikuler tersebut dalam pelaksanaannya hanya berupa teori tentang seni ukir, serta pengenalan tentang motif-motifnya. Berbeda dengan pada saat seni ukir masih menjadi mata pelajaran mulok. 

Ia menjelaskan bahwa pada saat dulu setiap siswa tidak hanya diberikan materi tentang ukir tetapi juga diberikan praktik mengukir langsung dengan media kayu. Sekolah juga menyediakan alat pahat yang dibutuhkan untuk mengukir. 

“Kalau dulu memang ada praktiknya di sekolah. Siswa megang pahat secara langsung, caranya mahat yang bener seperti apa. Jadi siswa ada pengalaman lah minimal. Kalau sekarang memang tidak bisa. Ditambah dengan nyari gurunya juga sulit,” katanya. 

Hal tersebut juga turut disampaikan oleh Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Prakarya SMP Kabupaten Jepara, Subagya Eko Santoso. Ia mengatakan bahwa minat para siswa terhadap seni ukir saat ini memang minim.

Baca juga: Tak Tergiur Kerja di Garmen, Perempuan Desa Petekeyan Ini Tetap Teguh Jadi Pengukir

“Siswa yang berminat pada seni ukir memang semakin terbatas. Ini bisa dilihat pada saat digelar kegiatan mengukir bersama dalam peringatan Hardiknas Selasa lalu di alun-alun Jepara,” katanya. 

Ia mengatakan bahwa pada saat kegiatan tersebut hanya terdapat 22 siswa jenjang SD dan SMP yang terlibat untuk mengukir bersama. Dalam kesempatan tersebut para siswa mengukir ornamen hiasan dinding sampai nama orang dengan media kayu meskipun ukurannya kecil.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER