BETANEWS.ID, JEPARA– Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, menjadi salah satu desa swasembada ukir di Kabupaten Jepara. Memasuki desa tersebut, area depan rumah warga banyak dipenuhi dengan tumpukan mebel. Tak mengherankan, karena desa ini mayoritas warganya bekerja sebagai pengukir.
Di saat para lelaki bekerja sebagai tukang kayu, para ibu atau perempuan memegang tugas untuk mengukir kayu. Tangan lincah mereka dengan lihai memahat pola yang sudah digambar di atas kayu.
Tetapi sejak masuknya industri garmen dari perusahaan asing ke Jepara, banyak para perempuan yang dulunya mengukir memilih untuk bekerja sebagai buruh pabrik. Jaminan gaya UMR, belum lagi ditambah bonus lembur membuat para perempuan di desa tersebut tergiur untuk meninggalkan pekerjaan sebagai pengukir.
Baca juga: Dulu Pernah Berjaya, Industri Ukir Jepara Kini Kian Meredup (4/6)
Tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi para perempuan yang lebih memilih untuk memprioritaskan keluarganya. Ratih (32), adalah satu di antara perempuan Jepara yang lebih memilih tetap menjadi pengukir, karena ingin tetap dekat dengan keluarganya.
Kepada Betanews.id, Ratih mengaku telah menggeluti pekerjaan sebagai pengukir selama 15 tahun tersebut. Dia memilih tetap menjadi pengukir karena bisa ia lakukan di rumah sambil mengurus ketiga anaknya.
Belajar mengukir sudah ia lakoni sejak kecil. Ketika melihat para tetangganya, keinginan tersebut tumbuh sampai akhirnya ia menikah. Dan suaminya yang mendidik dirinya untuk lebih terampil dalam mengukir.
“Saya memahat sehari memang hanya bisa dapat Rp 50 ribu, tapi pekerjaannya kan bisa saya lakukan di rumah. Bisa tetep masak, mengurus keluarga, ngurus anak jadi saya lebih memilih mengukir. Ya terkadang ada rasa pengen (kerja di garmen), tapi kembali lagi saya tetep mikir anak,” ujarnya pada Betanews, Sabtu (11/03/2023).
Dalam sehari ia bisa menyelesaikan ukiran kasaran sampai 10 buah yang dibayar dengan upah Rp 5 ribu tiap kayu. Sedangkan untuk ukiran minimalis yang dijadakan sebagai sandaran kursi, dirinya diberi upah Rp 10 ribu perpapan.
Baca juga: Pengukir di Jepara Dulu Jadi Idola, Kini Dipandang Sebelah Mata (5/6)
Hal senada juga juga dilakoni oleh Niskomah (32). Ia sudah belajar mengukir dari kelas enam SD. Pada saat itu ia melihat kakak dan ibunya mengukir, sehingga ia juga memiliki ketertarikan untuk belajar mengukir.
Keahlian tersebut ia teruskan sampai sekarang. Dirinya juga pernah mengikuti lomba mengukir bagi perempuan yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara.
“Nggak tertarik (bekerja di garmen) karena lebih memilih jadi ibu rumah tangga, ngurus anak sama keluarga. Apalagi Jepara ini kan memang dikenal sebagai Kota Ukir, jadi lebih milih mengukir,” ujar perempuan yang sudah mengukir selama 20 tahun tersebut.
Editor: Suwoko

