BETANEWS.ID, KUDUS – Di Kebun Pecuk Pecukilan, Kecamatan Bae, Kudus tempak ramai orang-orang berdatangan. Mereka adalah tamu undangan acara Bedah Novel “Cita-Cita Titik Dua Petani” yang digelar Omah Dongeng Marwah (ODM) bersama Forum Kamis Legen (Kalen).
Sang penulis novel, Kanti W. Janis yang hadir dalam acara tersebut sudi berbagi cerita kepada Betanews.id tentang karyanya itu. Ia menuturkan, bahwa ide menulis novel tentang pertanian itu sudah ada sejak tahun 2006. Namun dirinya baru bisa mulai menulisnya pada tahun 2010.
“Mulai menulis 2010 dan penyelesaiannya Desember 2022 kemarin. Berawal dari keprihatinan saya pada petani yang begitu mulia, tapi kurang dihargai. Padahal sandang papan kita ini bergantung dari petani,” ungkap Kanti sapaan akrabnya.

Baca juga: Bincang Filsafat Forum Kalen, Bongkar Filsafat Hidup ala Michael Henry
Ia menyayangkan karena profesi petani tidak permah menjadi pembahasan di sekolah. Bahkan menurutnya, sering kali di media sosial menggambarkan bahwa petani itu miskin.
“Tak hanya itu, para politisi juga sering menggaungkan kampanye untuk mensejahterakan petani. Tapi faktanya hanya menjadi jargon. 60 presen bahan makanan dasar Indonesia masoh impor. Katanya kita negara agraris, tapi nyatanya seperti ini. Saya bukan anak petani, tapi saya tertarik belajar tentang pertanian,” tegasnya, Sabtu (4/2/2023).
Kanti menjelaskan, bahwa novel tersebut memiliki cakupan yang luas. Namun dia mengawali dari gugatan seorang petani. Ia menggambarkan seorang tokoh bernama Tama merupakan orang yang jenius kemudian memilih jadi petani.
“Dengan kita peduli kepada petani hingga mencapai kedaulatan pangan, itu baru merdeka. Jadi saya ingin sekali memuliakan petani,” ujar Kanti.
12 tahun menulis novel tentang pertanian bukan tanpa kendala. Kanti menghadapi bermacam-macam kendala. Karena tidak terlahir dari keluarga petani, dia butuh melakukan banyak penelitian untuk memperkaya referensi terkait pertanian.
“Kendalanya macam-macam karena latar belakang saya bukan dari keluarga petani. Saya tidak ingin sembarangan menulis, jadi saya butuh proses panjang untuk riset. Novel tentang pertanian ini merupakan novel keempat saya dan baru volume pertama. Jadi akan ada buku lanjutan ke dua,” beber Kanti.
Arif Rohman (30) selaku panitia kegiatan tersebut menambahkan, selain bedah novel oleh Hasan Aoini Aziz, anak-anak ODM juga ikut memeriahkan acara. Di antaranya dengan mementaskan tarian kretek, mendongen, pembacaan puisi dan pembacaan cuplikan novel.
Baca juga: Menyimak Pidato Kebudayaan PvL Tentang Peradaban yang Hilang
“Persiapan kami kurang lebih sepekan. Tapi teman-teman sudah terbiasa membuat acara dan ikut pentas, jadi aman. Kekhawatiran kami malah pada cuaca. Alhamdulillah ini tidak hujan,” tambahnya.
Dia juga merinci jadwal road show bedah novel “Cita-Cita Titik Dua Petani” selama bulan Februari 2023. Road show dimulai tanggal 2 di of the Book Community Ungaran, Kabupaten Semarang. Tanggal 3 di Rumah Belajar Ilalang, Jepara.
“Hari ini dua lokasi, tadi pagi di Omah Kendeng Pati dan siangnya di sini. Besok tanggal 5 di Perpustakaan Ibnu Hajar Salam, Magelang. Tanggal 6 di Rumah Baca Sang Petualang, Wonogiri. Tanggal 7 di Kampung Literasi Kepek, Gunung Kidul. Tanggal 8 di Petik Merah Demangan, Jogjakarta. Tanggal 12 di Kopi NawNaw, Tasikmalaya dan 14 di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung,” rincinya.
Editor: Kholistiono

