31 C
Kudus
Jumat, Agustus 12, 2022
spot_img
BerandaKOMUNITASBincang Filsafat Forum...

Bincang Filsafat Forum Kalen, Bongkar Filsafat Hidup ala Michael Henry

BETANEWS.ID, KUDUS – Semilir angin dari sela-sela bangunan yang berada di Kebun Pecuk Pecukilan, Kecamatan Bae, Kudus seolah menyapa para tamu undangan di cara Bincang Filsafat yang digelar oleh Forum Kamis Legen (Kalen), Rabu, (20/7/2022) malam. Waktu menunjukan pukul 19.30 WIB, sesuai waktu yang dijadwalkan, Edy Supratno sebagai pembawa acara kemudian maju ke depan dan membuka acara yang akan membahas Filsafat Hidup ala Michael Henry itu.

Usai menyapa para tamu undangan, Edy sapaan akrabnya mengungkapkan, bahwa logo Forum Kalen bergambar gurami menelan durian ibarat diskusi malam itu. Menurutnya, kajian filsafat merupakan sesuatu yang berat, sehingga membutuhkan rahang yang kuat untuk menelannya.

“Gurami nguntal duren. Duren sesuatu yang berduri tapi gurami bisa menelannya. Kajian filsafat itu sesuatu yang berat, jadi butuh rahang yang kuat untuk menelannya,” katanya sambil tersenyum dan dilanjutkan mempersilakan Djoko Herryanto, sesepuh Forum Kalen untuk memberikan sambutan.

Peserta diskusi yang hadir dalam kegiatan yang digelar Forum Kalen di Kebun Pecuk Pecukilan, Rabu (20/7/2022) malam. Foto: Ahmad Rosyidi.
- Ads Banner -

Baca juga: Peringati Ulang Tahun ke-11, Forum Kalen Persembahkan Pembacaan dan Bedah Puisi Karya Yit Prayitno

Djoko begitu ia akarab disapa menjelaskan, bahwa belajar filsafat, belajar sejarah dan belajar sastra membutuhkan rahang yang kuat. Selain rahang kuat, juga dibutuhkan pencernaan yang sempurna.

“Logo ini terilhami oleh Mbah Niti Semito, ketika membuat rokok cap kodok nguntal ulo. Kalau Mbah Niti berani membuat hil yang mustahal, kodok nguntal ulo, Forum Kalen memberanikan diri untuk membuat gurami nguntal duren,” ujarnya sambil tertawa.

Dia juga membeberkan, sebagian orang menanggapi bahwa materi diskusi tersebut cukup keras dan susah dicerna. Namun menurut Djoko hal itu karena belum mendengarkan penjelaskan dari Romo Setyo.

“Itu karena belum mendengar ceramah dari Romo Setyo. Kalau sudah mendengar, nanti akan empuk seperti cincau dan mudah dicerna,” tambahnya sebelum mengembalikan forum kepada Edy.

Edy kemudian memperkenalkan pemantik diskusi malam itu. Yakni A Setyo Wibowo, Rektor Kolese Hermanum, yang sudah sejak lama mempelajari tentang Filsafat Hidup ala Michael Henry.

Tak lama menjelaskan, pemantik diskusi tersebut mulai duduk di depan bersama Djoko. Pria yang akrab disapa Setyo itu kemudian menjelaskan, bahwa Filsafat Hidup ala Michael Henry berisi tentang fenomena dan nomena atau esensi.

“Bukan tentang fenomena yang tampak. Karena tidak ada manusia yang menembus esensi sesuatu,” ungkapnya.

Dia mencontohkan tentang fenomena gunung. Bagi pelukis, gunung merupakan sesuatu yang indah dan bisa menjadi objek lukisan. Berbeda dengan pecinta alam, gunung merupakan tempat berpetualang dan ditaklukkan.

“Jadi tergantung siapa yang ngomong. Kalau petani di lereng merapi, gunung merupakan berkah kehidupan. Fakta gunung tidak bisa diartikan begitu saja. Tapi sesuai penampakannya bagi siapa. Bagi ahli geologi ya hanya fenomena alam saja,” terangnya.

Setyo melanjutkan, penampakan tersebut bisa multitafsir sesuai kesadaran manusia terhadap sesuatu. Kesadaran dan pikiran manusia dipengaruhi dengan apa yang memberikan kepada dirinya.

“Intensionalitas atau pikiran manusia dipengaruhi dengan sesuatu yang telah memberikan dirinya. Realitas pada dirinya sendiri tidak ada yang tahu, yang diketahui hanya fenomenanya. Karena pikiran kita sudah dikondisikan, orang Indonesia pasti beda dengan orang Prancis atau Amerika,” terang Setyo.

Ia menjelaskan, bahwa kultur juga bekerja memengaruhi pola pikir seseorang. Bahkan, menurutnya metode tersebut sudah banyak digunakan sebagai metode penelitian.

“Kemudian bagaimana yang menampak itu ada atau muncul? Hiduplah yang memungkinakan fenomena itu ada. Kehidupan itu sebuah auto generasi, sesuatu yang menurunkan dari dirinya sendiri dan mengadakan dirinya sendiri,” terangnya.

Baca juga: Mengenal Forum Kalen, Komunitas Kaum Intelektual di Kudus

Setyo menambahkan, bahwa fenomena bukanlah dari kekuatan benda itu sendiri, tetapi harus ada daya atau kekuatan lain yang membuat tertampakkan. Dengan kritik itu, Michael Henry kemudian membuat teori terbalik.

“Di mana tidak memusatkan lagi pada fenomena, tapi pada syarat-syarat yang membuat fenomena ada. Fenomenalitas, sebagai kehidupan. Kehidupan bersifat rahasia, poin ini yang sering diulang-ulang, rahasia tersembunyi,” jelas Setyo.

Ia juga menyinggung tentang komunisme dan kapitalisme yang menurutnya saat ini menjadi barbarisme. Manusia yang berorientasi pada harta.

“Sehingga melupakan etika-etika tentang hidup yang tidak terlihat, rahasia. Yang penting itu bukan panggung teater, tapi bagaimana dirimu dalam batinmu,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

32,381FansSuka
15,327PengikutMengikuti
4,330PengikutMengikuti
90,084PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler