31 C
Kudus
Sabtu, Februari 4, 2023
BerandaSejarahMenyimak Pidato Kebudayaan...

Menyimak Pidato Kebudayaan PvL Tentang Peradaban yang Hilang

BETANEWS.ID, KUDUS – Pada acara syukuran wisuda Doktor Edy Supratno yang digelar Forum Kamis Legen (Kalen) di Kebun Pucuk Pecukilan, Bae, Kudus, Rabu (14/12/2022) malam, Djoko Herryanto, penasihat Forum Kalen menyampaikan Pidato Kebudayaan. Dalam pidatonya, ia menyampaikan tentang peradaban yang hilang.

Di Forum Kalen, pria yang akrab disapa Petroek van Loano (PvL) itu menjelaskan, lini masa semesta yang memiliki umur 13,8 miliiar tahun (Mt), Bima Sakti berumur 13,61 Mt, tata surya berumur 4,51 Mt, matahari berumur 4,603 Mt dan bumi berumur 4,543 Mt.

“Lalu berapa umur peradaban manusia? Kita dapat menentukan usia alam semesta dengan menganalisis cahaya dan jenis radiasi lain yang bergerak dari luar angkasa. Tetapi, tidak semua ilmuwan percaya akan penghitungan itu. Padahal rumusnya sangat sederhana, bahwa jarak sama dengan kecepatan kali waktu,” katanya.

Petroek van Loano (PvL) saat pidato kebudayaan di hadapan tamu undangan dalam acara syukuran Edy Supratno meraih gelar DR di di Kebun Pucuk Pecukilan, Bae, Kudus, Rabu (14/12/2022) malam.

Baca juga: Penyelamatan Ekologi dan Perjalanan Hidup PvL Tersimpan Dalam Buku Lemari Hati

Menurut PvL, para peneliti terus menyempurnakan jawaban saat teleskop diperbaharui. Pada 1920-an, astronom Edwin Hubble menemukan cara untuk mengetahui hubungan antara jarak suatu objek, berdasarkan berapa lama cahayanya mencapai bumi dan seberapa cepat ia bergerak menjauh dari kita.

“Metrik ini sekarang dikenal sebagai konstanta Hubble, menggambarkan perluasan alam semesta di lokasi yang berbeda, menurut laporan Live Science. Menurut NASA, konstanta Hubble menunjukkan perluasan alam semesta semakin cepat. Salah satu konsekuensi dari temuan ini adalah perkiraan usia alam semesta lebih sulit dibuktikan,” terangnya.

Ia melanjutkan, bahwa saat ini alam semesta diperkirakan berusia sekitar 13,8 miliar tahun. Ini ditentukan oleh berbagai kelompok ilmuwan yang mengumumkan temuan mereka pada 2020 setelah mengevaluasi kembali data dari pesawat ruang angkasa Planck, milik Badan Antariksa Eropa.

Selain itu, ilmuwan juga mengelaborasikan dengan data yang diperoleh dari Atacama Cosmology Telescope (ACT) di Chili. Dan hasilnya, semesta berusia kira-kira 100 juta tahun lebih tua dari perkiraan sebelumnya, yang ditentukan oleh data yang dipancarkan kembali dari pesawat ruang angkasa Planck pada 2013.

“Baik pesawat ruang angkasa dan teleskop telah memetakan latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB), yang merupakan sisa cahaya dari Big Bang. Big Bang adalah peristiwa yang menyebabkan pembentukan alam semesta berdasarkan kajian kosmologi, untuk mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta,” ungkap PvL.

Baca juga: Mengenal Forum Kalen, Komunitas Kaum Intelektual di Kudus

Menurutnya, dengan menggabungkan data tersebut, dipadukan dengan model yang ada tentang seberapa cepat jenis materi dan benda langit akan muncul. Dengan demikian para ilmuwan dapat memperkirakan seberapa jauh kelahiran alam semesta yang eksplosif itu terjadi.

“Saya mencoba menyajikan fakta yang sementara ini ditolak oleh para arkeolog umum, tentang lini masa mulainya peradaban manusia modern. Beberapa contoh peradaban hilang di Timur Tengah, perbatasan Asia Eropa dan Benua Amerika,” jelasnya.

Sambil menunjukan gambar Derinkuyu Kapadokia Turkey, dia menyebut, bahwa situs tersebut merupakan kota bawah tanah yang hilang. Sedangkan menurut para ahli kota itu mampu menghidupi 20.000 orang degan ternak peliharaan, gudang penyimpanan biji-bijian dan minuman.

“Mengapa peradaban waktu itu membangun kota dibawah tanah? Perkiraan yang paling mungkin adalah bahwa permukaan bumi mengalami cuaca ekstrem dingin beku yang mematikan,” dugaan PvL.

Selain Derinkuyu Kapadokia Turkey, ia juga menyebutkan Gobekli Tepe Turkey yang dibangun 6.000 tahun sebelum Stonehenge Inggris dan Ggantija Temples Malta. Menurut PvL, peradaban tersebut jelas lebih tua dari cerita rakyat, bahwa 9.000 tahun yang lalu.

“Malta mulai ditempati oleh para penggembala yang menyeberang dari Sisilia. Ada lagi Stonehenge England dan Piramida Cholula Peubla Meksiko. Pahatan di dinding kuil menunjukan beberapa gambar ular, gambar ular sering dimaknai sebagai pertanda bencana banjir besar. Gambar ular itu ternyata adalah symbol dari asteroid dan komet,” jelasnya sambil menunjukan foto Komet Halley.

Baca juga: DR Edy Supratno Ungkap Peran Pengusaha Kretek Kudus Saat Kemerdekaan di Disertasinya

Setelah menunjukan berbagai foto, PvL menegaskan, bahwa sains mengajarkan skeptisme, bukan sinisme. Karena menurut PvL, sinisme dalam sains itu berbahaya. Para pencari jejak leluhur peradaban yang hilang harus berjalan dengan tafakur dan rendah hati.

“Bertanya dengan benak terbuka, tidak pernah punya sikap sinis dan menghina, sinisme itu berbahaya. Kudus, diberi hadiah peringatan hari jadi dengan lini masa 1.549 tahun, untuk penamaan Kudus mungkin demikian, lini masa ini justru membuka pintu penelitian baru, kapan peradaban di tlatah Wilahulu lereng selatan ini dimulai?,” tanyanya.

PvL menambahakan, menyingkap peradaban yang samar kabur lamat-lamat adalah tugas mulia sejarawan. Menurutnya, melalui peradaban, para leluhur menitipkan pesan kepada generasi mendatang, mencari pesan leluhur tidak banyak jalannya. Dan salah satunya adalah mencari peradaban yang hilang.

Editor: Kholistiono

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,383FansSuka
13,322PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
100,000PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler