BETANEWS.ID, KUDUS – Sedari pagi, Ria Rizky Mardiana (23) tampak sibuk merangkai balon twist pentil menjadi bentuk bunga. Balon yang telah berbentuk kelopak itu kemudian ia satukan dengan tangkai menggunakan pita balon hingga menjadi buket balon.
Meski baru dirintis pada 8 November lalu, buket balon jualannya itu rupanya dapat respon yang bagus dari masyarakat. Mengingat, buket tersebut masih jarang ditemui di Kota Kretek.
“Oktober kan lolos Prakerja dan dapat insentif jadi aku bingung uangnya nanti buat usaha apa. Kebetulan buket balon lagi trend yang waktu itu saya lihat dari Tiktod. Jadi uangnya itu buat usaha,” kata wanita yang tinggal di Jalan Ontoseno Raya, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu, Sabtu (3/12/2022).
Baca juga: Bukan Bunga atau Snack, Buket Balon Ini Rupanya Sedang Hits di Kalangan Anak Muda Lho
Tia mengaku, saat awal belajar ia cukup kesulitan membuat kreasi buket balon. Ia sampai berkali-kali melihat tutorial di TikTok dan YouTube hingga ia kini mahir membuat buket bunga Daisy, mawar, dan bunga matahari. Buket itu bisa dipesan untuk acara wisuda, ulang tahun, anniversary, dan opening ceremony.
“Warnanya lebih bervariasi dan bisa request bentuk bunga apa, mau mawar, bunga matahari, atau yang lain,” terangnya.
Berkat trend itu, Ria menjelaskan saat pertama kali launching, ia bahkan kebanjiran orderan. Paling banyak, Ria menyebutkan bisa membuat 7-10 orderan buket balon.
Baca juga: Kisah Kevin, Sarjana Hukum yang Pilih Usaha Kuliner Ketimbang Rintis Karir di Pengadilan
“Harganya mulai dari Rp10 itu yang paling kecil. Sedangkan paling banyak ada 12 tangkai harga Rp85 ribu. Harga tergantung dengan jumlah tangkainya,” jelasnya.
Meskipun terbilang baru merintis, Ria tetap optimis ingin mengembangkan bakatnya itu. Ia berharap buket balon balonaly.id dapat lebih berkembang dan menciptakan inovasi kerajinan buket balon lainnya.
“Sebelumnya saya kerja jadi admin olshop, terus keluar untuk mandiri karena saya pingin kerja nggak ikut orang terus. Jadi semoga usaha ini bisa berkembang lagi,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

