BETANEWS.ID, KUDUS – Asfandi Janwar, (37) pagi itu tampak sibuk melayani beberapa pembeli yang silih berganti berdatangan di lapak bubur ayam miliknya yang berada di depan Sultan Fried Chicken Kudus. Ia terlihat mengambil bubur dari dandang besar yang kemudian diberi telur ayam kampung sesuai permintaan pembeli. Setelah itu, di atasnya juga kemudian diberi toping.
Setelah lengkap diberi toping, kemudian bubur ayam tersebut ditaruh di atas kompor untuk dibakar atau dengan istilah claypot khas Korea. Sajian yang menawarkan keunikan itu mampu menarik pembeli, khususnya masyarakat Kudus.

Baca juga: Uniknya Bubur Ayam Claypot Korea, 4 Jam Bisa Ratusan Porsi Ludes
Pria yang sering dipanggil Fandi itu mengisahkan, sebelum buka di Kudus sebenarnya ia terlebih dahulu mempunyai lapak bubur ayam di Bekasi. Bahkan ia memiliki tiga lapak sekaligus di sana. Namun karena pandemic, usaha yang dirintisnya sejak 2017 lalu itu harus tutup, lantaran ada pembatasan pemberlakuan kegiatan masyarakat (PPKM).
“Usaha bubur di Bekasi harus koleb karena pandemi. Soalnya pada saat itu tidak boleh ada kegiatan sama sekali. Padahal di sana sudah berjalan tiga tahun dan mulai ada perkembangan,” beber Fandi kepada Betanews.id, Rabu (23/11/2022).
Hal itu membuatnya tak mempunyai lagi pendapatan lantaran usaha yang sudah berjalan harus tutup. Ia bahkan merencanakan buka bubur ayam kembali saat kondisi sudah baik.
Ia menjelaskan, buka usaha bubur ayam di Kudus sebenarnya tidak ada rencana sama sekali. Karena saat Hari Raya Idul Fitri tahun ini, ia silaturahmi ke rumah saudara. Di sana ia di tanya kenapa tidak buka kembali, karena saudaranya itu sangat menyayangkan jika tidak buka lagi.
“Sebenarnya tidak ada rencana berjualan di sini sama sekali. Karena pada saat silaturahmi ke rumah saudara ada yang menyarankan berjualan di Kudus. Menurutnya masyarakat Kudus sangat konsumtif, dalam artian hobi jajan. Kemudian saya survei tempat mulai pagi sampai malam dan survei beberapa penjual bubur. Setelah merasakan, saya merasa jika bubur saya ini bisa bersaing,” ungkap bapak tiga anak tersebut.
Baca juga: Enaknya Bubur Ayam Cinta Rasa Ini Bisa Tarik Ratusan Pembeli Tiap Hari
Berbeda konsep saat jualan bubur di Bekasi, kata Fandi, di Kudus ia menerapkan konsep yang unik dan menarik pembeli yang buburnya dibakar atau istilahnya claypot Korea. Dari segi penjualan, juga memiliki perbedaan drastic. Jika di Bekasi dulu ia bisa menjual 100 porsi itu pun di jualan pagi dan sore. Sedangkan saat jualan di Kudus berjualan selama 4 jam bisa jual 170 -250 porsi.
“Tapi kalau hari libur bisa sampai dua kali lipat. Padahal jualan di sini baru berjalan 4 bulan, namun sudah ada progres yang sangat bagus ke depannya. Nanti ke depannya juga punya rencana mulai buka malam hari sampai pagi, ditunggu saja,” tandasnya.
Editor: Kholistiono

