BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa siswa tampak berbagi peran membuat kopi di laboratorium SMK Duta Karya, Jalan Sosrokartono, Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Ada yang memilah bahan-bahan dalam sebuah baskom, ada pula yang siap menyelepnya menjadi kopi. Mereka terlihat kompak memproduksi kopi rempah yang terkenal punya banyak khasiat itu.
Laboran 4.0 SMK Duta Karya, Adi Saputra (23) menjelaskan, berbagai jenis kopi yang dihasilkan adalah kopi rempah sultan, kopi kunir asem, kopi beras kencur, dan kopi jahe. Sedangkan kopi dengan varian buah, ada kopi vanila, kopi durian, kopi mangga, dan kopi nangka.

“Salah satu kopi yang banyak diminati itu kopi sultan karena memiliki manfaat untuk vitalitas laki-laki dan menambah stamina,” katanya Jumat, (16/9/2022).
Baca juga: Kopi Wine Robusta di Kopi Centeng Ini Punya Cita Rasa Khas yang Patut Dicoba
Menurutnya, kopi rempah produksi SMK Duta Karya sudah memiliki izin PIRT dan dijual dengan berbagai ukuran. Pembeli dapat membelinya lewat Shopee atau langsung ke SMK Duta Karya.
“Kopi sultan harganya Rp51 ribu untuk kemasan 100 gram, kopi jahe 180 gram Rp36 ribu, kopi kunir asem 180 gram Rp35 ribu, dan beras kencur Rp35 ribu. Sedangkan untuk kopi durian harga Rp40 ribu, kopi banana Rp40 ribu,” jelasnya.
Peminat kopi rempah itu tidak hanya berasal dari Kudus saja karena telah merambah ke luar Pulau Jawa. Adi menuturkan, kopi rempah bahkan telah menjadi langganan dari daerah Makassar, Aceh, dan Kalimantan.
Baca juga: Mantapnya Cita Rasa Kopi Zayna yang Tembus Pasar Hong Kong
“Pemasarannya sudah sampai Makassar, Aceh, terkahir di Kalimantan. Sedangkan yang untuk pulau Jawa kami masih proses promosi,” beber dia.
Adi pun sedikit menjelaskan proses produksi kopi rempah di tempatnya. Untuk kopi, pihaknya menggunakan kopi lanang dan bahan rempah-rempah dengan kualitas bagus.
“Pertama kami menyiapkan bahannya. Kopi sebelumnya diopen sekitartiga jam. Setelah itu, kopi kita sangrai sekitar satu jam dan terakhir kita pakai rempah kering, kemudian didiamkan sampai suhunya normal baru bisa digiling,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

