31 C
Kudus
Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaKISAHKisah Jatuh Bangun...

Kisah Jatuh Bangun Sumarno Bertahan Jualan Kitiran Sejak SMP

BETANEWS.ID, JEPARA – Sumarno (56) tampak sibuk menata satu per satu kitiran ke dalam kardus yang hendak dipacking. Sementara di teras rumah, sang istri dengan cekatan menekuk bambu dengan benang agar membentuk sayap baling-baling untuk kitiran.

Setiap hari Sumarno dan istri memang berjibaku membuat kitiran di rumahnya yang berada di Desa Karanganyar RT 4 RW 2, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara.

Kepada betanews.id, Sumarno bersedia menceritakan perjalanannya menekuni mainan tradisional tersebut. Ia mengaku sudah mahir membuat kitiran sejak SMP. Keahlian itu didapat dari tetangganya yang kala itu menjadi pengrajin kitiran.

- Ads Banner -

Baca juga: Mainan Jadul Kitiran Buatan Warga Jepara Ini Tembus Pasar Asia Tenggara, Sebulan Terjual Ribuan

“Membuat kitiran ini saya belajar dari tetangga saya yang ketika itu memproduksi dan menjual kitiran. Dulu awalnya saya melihat Karena penasaran terus saya coba dan ikut jualan untuk membantu orang tua,” jelasnya, Kamis (15/9/2022).

Sumarno mengatakan, dulu orang tuanya adalah penjual bambu sekaligus penganyam bambu yang penghasilannya tidak seberapa. Karena itulah ia ingin membantu ekonomi keluarga dan meringankan biaya sekolah dengan membuat kitiran.

Setelah lulus SMA, ia sempat berhenti membuat kitiran dan bekerja di salah satu koperasi. Namun karena sering sakit ia akhirnya memutuskan berhenti dan kembali membuat kitiran.

Di tahun 1988, Sumarno untuk pertama kalinya merantau untuk berjualan mainan kitiran ke berbagai kota. Ia menjual kitiran bersama sang adik dengan cara berkeliling dan mencari keramaian.

Baca juga: Gagal di Kucingan, Khoirul Akhirnya Temukan Kesuksesan di Es Dawet Pandan yang Laris Manis

“Setahun kemudian saya sama adek berjualan kitiran ke Purbalingga, Banten dan Tangerang. Dari kontrakan naik bus turun di satu daerah, mulai keliling lalu datang ke tempat hajatan, pengajian, atau acara yang ramai,”akunya.

Bertahun-tahun ia berjualan kitiran secara keliling di kota orang, hingga kemudian ia menikah di tahun 1995. Sejak menikah itulah ia tidak merantau kembali, tapi tetap membuat dan berjualan Kitiran. Kitiran buatanya diambil orang dan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Sumarno mengaku, meski sempat mengalami penurunan penjualan sekitar 50 persen saat pandemi, kini sudah mulai membaik. Walaupun tak sebanyak dulu, setidaknya penjualan masih ada setiap minggunya. Selain itu sejak 2020 lalu, sang anak juga ikut menjual kitiran secara online untuk mengatasi penurunan saat pandemi.

“Waktu pandemi penurunan drastis, apalagi waktu itu banyak acara yang tidak digelar, hajatan juga tidak. Alhamdulillah sekarang sudah membaik. Harapan ke depannya permintaan kitiran terus ada dan perlahan pulih. ” tukasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Erna Safitri
Erna Safitri
Erna Safitri adalah reporter Beta News yang bergabung pada 2022. Pernah menempuh pendidikan di IAIN Kudus Jurusan Komunikasi.

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler