BETANEWS.ID, JEPARA – Di halaman sebuah rumah yang berada di Desa Karanganyar RT 4 RW 2, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, terdapat puluhan bambu serut yang dijemur di bawah sinar matahari. Ada bambu serut polosan dan ada pula yang sudah dicat warna merah.
Bambu serut itu merupakan bahan utama pembuatan baling-baling bambu atau yang dikenal dengan nama kitiran. Mainan tradisional ini akan menghasilkan suara khas saat baling-balingnya tertiup angin.

Sumarno (56) pengrajin kitiran mengatakan, untuk membuat mainana kitiran dibutuhan beberapa bahan seperti bambu, kertas, seng, karet, kertas warna-warni (gerenjeng), benang, mika, lem, dan pewarna. Di tempatnya, ia membuat dua jenis kitiran, yakni kitiran kecil dan kitiran besar dengan tambahan variasi kincir dari mika.
Baca juga: Mobil Mainan dari Kayu Hingga Kuda Jungkit Buatan Mukudori Ini Laris Manis, Harga Mulai Rp 40 Ribu
Bambu yang digunakan yaitu jenis apos yang memiliki tingkat kelenturan tinggi, sehingga saat dibentuk tidak mudah patah dan tahan lama. Sedangkan untuk klotongan yang menimbulkan suara terbuat dari limbah bungkus rokok di Kudus.
“Kebanyakan bahan untuk kitiran memanfaatkan limbah, seperti limbah bungkus rokok untuk klotongan, kertas pembungkus bambu warna-warni (gerenjeng) dari limbah di pabrik Surabaya, As-nya dari seng limbah juga,” jelas pria yang juga jadi Ketua Kelompok Pengrajin (KPK) Mekar Jaya itu, Kamis (15/9/2022).
Dalam membuat mainan kitiran,ia dibantu sang istri serta ada lima karyawan lain yang diperkerjakan di rumah masing-masing. Karyawan ini bertugas moleti, ngelem, merancang klontongan, dan as.
“Setiap hari kita produksi mainan kitiran. Saya mengolah bambu, ada karyawan yang moleti, ngelem, bikin klotongan dan as. Nanti istri yang merangkai jadi satu mainan kitiran dan bikin kerangka kitiran,” ungkapnya.
Baca juga: Mobil Aki Mainannya Laris Manis, Ihsan Kini Punya Dua Toko MYQ Toys
Dalam waktu satu minggu, dirinya bisa memproduksi sekitar 2.000 kitiran dengan harga mulai Rp1.500 untuk ukuran kecil dan Rp2.500 untuk kitiran besar. Menurut Sumarno, pangsa pasar mainan tradisional kitiran buatannya tidak hanya ke berbagai daerah di Indonesia saja, melainkan sudah ke berbagai negara di Asia. Setiap satu bulan sekali, setidaknya ia bisa mengirimkan paket mainan sebanyak 1.000 sampai 5.000 kitiran.
“Mainan kitiran ini saya kirim dan jual ke daerah Batam, Rantau Prapat, Medan. Kalau sebelum pandemi juga ke Panakukang, Mimika, Tangerang. Dulu sebelum tahun 2010 pernah sampai ke Thailand, Vietnam, Brunei, Malaysia, tapi sekarang hanya ke Malaysia saja,” bebernya.
Untuk mendapatkan mainan tradisional berupa kitiran, pelanggan bisa datang langsung atau WhatsApp di nomor 0878-1587-4164. Kitiran ini juga dijual online melalui Instagram @doldolanan.id dan Facebook @doldolanan.
Editor: Ahmad Muhlisin

