31 C
Kudus
Minggu, November 27, 2022
BerandaSOLOKampung Permata Jayengan,...

Kampung Permata Jayengan, Tempat Berkumpul Pengusaha Perhiasan Berdarah Banjar di Solo

BETANEWS.ID, SOLO – Usaha perhiasan batu permata memang merupakan salah satu komoditas unggulan di Kampung Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo. Maka dari itu, tak heran jika di wilayah tersebut banyak ditemukan toko perhiasan.

Para pedagang perhiasan di sana merupakan masyarakat suku Banjar yang menetap di Solo. Dahulu, banyak pedagang batu mulia yang berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan yang datang ke Solo pada abad ke-18.

Usaha mereka kemudian berkembang pesat, bahkan banyak dari mereka yang memutuskan untuk menetap di Solo dan menikah dengan masyarakat lokal. Untuk mewadahi komunitas tersebut, kemudian berdiri lah Jayengan Kampung Permata (JKP) pada 18 Oktober 2015.

- Ads Banner -

Baca juga: Dengan Batik Printing Inovasi STTW Solo, Buat Batik Kini Hanya Butuh Bebeberapa Menit

Ketua Forum JKP Yusuf Ahmad Alkatiri menjelaskan, forum tersebut terbentuk atas bantuan beberapa dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan dinas terkait.

“Baru generasi saya ini yang terorganisasi. Kalau sebelumnya masih tradisional. Kalau orang tua dulu sebenarnya sudah punya ide untuk membuat suatu forum, tapi selalu gagal dan generasi saya ini baru berhasil bukan karena saya hebat tapi karena saya dibantu oleh pendamping,” ujar Yusuf, Senin (19/9/2022).

Sejak resmi punya komunitas, pihaknya selalu jadi andalan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo saat menggelar pameran baik di dalam maupun di luar daerah.

“Setiap ada momen-momen pameran kami selalu diminta mewakili Solo. Setiap tahun kami pergi ke Jakarta, Surabaya, itu sepak terjang kami sampai saat ini,” kata pemilik Yusuf Jewlery itu.

Hingga saat ini, JKP memiliki kurang lebih 350 anggota. Mereka tersebar di Solo Raya dan beberapa daerah lain. Seiring berjalannya waktu, JKP membuat sebuah gedung yang berada di area Masjid Darussalam Jayengan untuk berkumpul.

“Awal mula kita membangun gedung itu adalah untuk mempersatukan anggota. Kadang yang dari daerah lain itu kalau pas sudah sore kumpul di kebun kita sini mereka saling tukar informasi,” katanya.

Baca juga: Karnaval Jarwana, Simbol Kerukunan Etnis Banjar, Jawa, dan Cina di Kampung Jayengan

Anggota yang tergabung dalam forum JKP juga bermacam-macam, mulai dari pengusaha batu mulia, emas, batu-batuan lokal, dan beberapa perhiasan lain.

Melalui diskusi dan pengembangan yang dilakukan bersama-sama, anggota JKP akhirnya terus berkembang dan berinovasi untuk membuat perhiasan yang patut bersaing dengan perhiasan impor.

“Produk kita tidak kalah dengan produk-produk impor dengan harga jauh lebih murah. Bahkan istilahnya hampir tiga kali lipat sering kali banyak orang yang beli di toko Rp30 juta, beli sama kita dengan barang yang persis seperti ini bisa Rp10 juta saja,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,335PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler