BETANEWS.ID, SOLO – Sekolah Tinggi Teknologi Warga (STTW) Solo mengembangkan produk tekstil bermotif batk dengan pewarna alam yang ramah lingkungan. Produk yang dikembangkan program study Teknik Kimia dan Tekstil itu dikenalkan kepada pematik di Kampung Batik Kauman, Rabu (14/9/2022).
Proses pembuatannya juga terbilang unik layaknya pembuatan sablon. Pertama-tama, kain putih diletakkan di alat sablon, lalu cetakan motif batik dengan pewarna itu ditekan dan diseret secara perlahan kurang lebih lima kali untuk menghasilkan warna dan motif yang merata pada kain.

Kaprodi Teknik Kimia dan Tekstil STTW Ainur Rosyida mengatakan, bahan ramah lingkungan yang digunakan meliputi bunga Keningkir, kulit kayu nangka, buah tanaman mangsi, serta berbagai bahan alami lainnya yang mudah ditemui di lingkungan sekitar.
Baca juga: Batik Motif Dugderan Milik Sekar Jagad Ini Diidamkan Emak-emak
Produk yang dihasilkan juga patut bersaing dengan produk tekstil lainnya. Nanum, karena menggunakan bahan yang ramah lingkungan, menurut Ainur perlu perawatan khusus untuk menjaga warna agar tetap awet.
“Kalau perawatan untuk menjaga ketahanan warnanya berbeda dengan zat panas sintetis. Kita harus menggunakan sabun lerak supaya tidak segera memudar warnanya,” paparnya.
Dengan menggunakan inovasi itu, Ainur berharap bsia menjadi suatu ilmu baru yang bisa diterapkan oleh para pelaku usaha batik. Selain itu, para pelaku usaha batik dapat meminimalkan waktu pengerjaan.
“Dengan biaya yang lebih murah dengan hasil yang bagus, harapannya adalah bisa membantu mereka agar bisa survive,” ujar Ainur.
Baca juga: Menilik Makna dan Filosofi Sarung Batik Lar Gurda
Pada sosialisasi tersebut, para pengusaha batik yang berjumlah sekitar 20 orang sangat antusias melakukan praktik. Begitu juga Ketua Paguyuban Kampung Batik Kauman, Gunawan Wibisono yang megapresiasi adanya temuan itu.
“Ya ada yang bilang tadi kayak printing dan sebagainya. Maka saya bilang tadi akan mencarikan istilah yang lebih bagus di luar kata printing tadi, karena kalau image printing kan bukan batik tapi tekstil. Ini adalah salah satu teknik pewarnaan yang menurut kami sangat menarik,” ujar Gunawan.
Jika teknik tersebut diterapkan dan dijual secara komersil, Gunawan berharap ini bisa menjadi satu pilihan bagi konsumen pecinta batik. Ia juga optimis produk yang dibuat dengan menggunakan teknik itu bisa laku keras di pasaran. Ia juga berharap Kampung Batik Laweyan bisa menjadi pionir pembuatan produk tersebut.
“Insyaallah kita optimis di pasaran, tentunya kita harus dikemas dengan baik. Ya moga-moga begitu, karena memang jaman dulu katanya batik cap itu ditemukan di kauman juga, katanya seperti itu,” pungkas Gunawan.
Editor: Ahmad Muhlisin

