BETANEWS.ID, SOLO – Digitalisasi saat ini terus dikembangkan di seluruh sektor kehidupan manusia. Salah satunya yang tengah digencarkan adalah transaksi di pasar tradisional dengan menggunakan uang digital.
Wakil Menteri Pedagangan (Wamendag) RI Jerry Sambuaga menyebut, proses digitalisasi di sejumlah pasar sudah berjalan sukses. Salah satunya adalah Pasar Legi Solo yang ia kunjungi, Sabtu (20/8/2022).
Di sana, Jerry mencoba berbelanja di beberapa pedagang dan membayar dengan menggunakan QRIS. Dengan ponselnya, ia membayar dengan men-scan barcode yang disediakan pedagang.
Baca juga: Wamendag Jerry Sambuaga Senang Harga Minyak Goreng Curah di Solo di Bawah HET
“Tadi kami cek ada beberapa lapak yang sudah menerapkan pembayaran tidak menggunakan uang tunai. Tadi saya tes langsung menggunakan QRIS barcode yang langsung kita scan ke pedagang. Tidak sampai tiga detik saya juga masukan harganya langsung ke rekening pedagang,” ujar Jerry.
Saat ini, pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah untuk mendorong digitalisasi di pasar tradisional. Meski program tersebut belum terealisasi di seluruh pedagang, tapi menurutnya usaha untuk mewujudkan hal tersebut berjalan dengan baik.
“Ini merupakan salah satu program yang Kemendag lakukan bersama juga menggandeng tingkat provinsi kota dan seterusnya untuk mewujudkan digitalisasi itu jalan,” kata dia.
Lebih lanjut, Jerry mengatakan bahwa pihaknya terus mendorog kepada para pedagang yang belum menggunakan pembayaran untuk segera menerapkan hal tersebut.
“Pasti akan kita imbau untuk melakukan, karena ini aman, praktis, cepat, dan langsung masuk ke rekening pedagangnya. Jadi nggak ada disimpan di rekening lain. Saya imbau masyarakat dan pedagang jangan cemas, jangan khawatir karena itu semua langsung masuk ke rekening,” katanya.
Baca juga: Pasar di Solo Terapkan Pembayaran Nontunai, Pedagang: ‘Ibu-Ibu Kebanyakan Pilih Tunai’
Salah seorang pedagang, Adi Riyanto Harjono (54) mengaku sudah hampir lima bulan menyediakan pembayaran elektronik. Namun, hingga saat ini menurutnya masih banyak pelanggannya yang menggunakan pembayaran secara tunai.
“Tapi kalau misalkan seperti rumah makan atau restoran gitu sudah pakai QRIS, mungkin kalau di pelanggan saya masih sekitar 20 persenan,” ujarnya.
Karena masih sedikit yang membayar menggunakan QRIS, menurutnya tidak banyak memberikan pengaruh. Namun, karena ia menjadi mitra salah satu e-commerce yang merangkul pedagang untuk go digital, pesanannya melalui jalur tersebut mulai merangkak naik.
“Yang paling saya rasakan di Grabmart-nya aja, mulai banyak. Minimal bisa di angka Rp400 ribu sampai Rp1 juta dari itu saja,” ujar pria asal Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo itu.
Editor: Ahmad Muhlisin

