BETANEWS.ID, KUDUS – Pengusaha rokok kecil Kudus mengeluhkan maraknya produsen rokok kelas satu yang juga memproduksi rokok murah. Akibatnya, persaingan pasar rokok jadi tak seimbang dan berdampak pada usaha rokok kecil yang susah untuk berkembang.
Hal itu diungkap oleh salah satu pengusaha rokok kecil yakni Sutris. Pemilik PR Rajan Nabadi itu mengatakan, meski keberatan atas hal tersebut, namun karena itu legal menurut peraturan pemerintah, jadi usaha rokok kecil seperti dirinya hanya bisa pasrah.
Baca juga: Kasus Covid Melandai, Industri Rokok Kecil di Kudus Semakin Bergeliat
“Sebenarnya keberatan, tapi karena peraturan pemerintah melegalkan bagaimana lagi. Kami hanya bisa pasrah,”ujar Sutris kepada Betanews.id di pabriknya yang berada di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus.
Beberapa tahun terakhir tuturnya, marak produsen rokok kelas satu memproduksi rokok murah atau kelas tiga. Harga jualnya pun bisa dikatakan sangat bersaing bahkan hampir sama.
“Jika kami produsen rokok kelas tiga harus bersaing dengan produsen rokok kelas satu, jelas tidak sebanding,” bebernya.
Dia pun berharap, agar pemerintah juga memperhatikan usaha rokok kecil. Industri rokok kecil di Kudus menurutnya lumayan banyak. Sehingga, sebaiknya digandeng dan diberi bantuan agar tetap bisa bersaing.
Baca juga: Berikan Mesin Cetak Bungkus Rokok ke KIHT Kudus, Ganjar: ‘Semoga Kualitas Produksinya Meningkat’
“Harapannya kita dibantu mesin produksi sigaret kretek mesin (SKM). Dengan mesin tersebut, nanti kami juga bisa memproduksi rokok sigaret kretek mesin (SKM) yang tentunya sangat membantu produksi. Informasinya, tahun ini ada bantuan mesin itu, semoga saja dipercepat,” harapnya.
PT Rajan Nabadi punya tiga merk rokok. Antara lain, rokok Jambu Bold, Seroja dan Biji Jambu. Ketiga merk itu semuanya rokok kretek tangan.
Editor : Kholistiono

