31 C
Kudus
Rabu, Juni 29, 2022
spot_img
BerandaSOLOMelihat Tradisi Ruwatan...

Melihat Tradisi Ruwatan Jelang Imlek di Klenteng Tien Kok Sie, dari Potong Rambut Hingga Melepas Binatang

BETANEWS.ID, SOLO – Masyarakat Tionghoa bersiap merayakan Tahun Baru Imlek 2022 yang jatuh pada Selasa (1/2/2022). Pada malam menjelang tahun baru Imlek, biasanya keluarga etnis Tionghoa melakukan beberapa tradisi. Tradisi itu seperti kumpul bersama keluarga, makan bersama, dan juga memberi uang dalam amplop merah atau angpao.

Tradisi lain yang dilakukan jelang tahun baru Imlek, yakni berdoa di klenteng kepada para leluhur dan juga upacara ruwatan.

Salah satu klenteng tertua di Kota Solo, Tien Kok Sie, juga masih melakukan ruwatan untuk mengharapkan rezeki dan menangkal kesialan jika tidak ada keselarasan antara shio yang dianut dengan shio pada tahun ini yang merupakan Shio Macan Air.

Tradisi ritual siraman. Foto: Khalim Mahfur.
- Ads Banner -

Baca juga : Masih Pandemi, Klenteng Tay Kak Sie Semarang Tiadakan Perayaan Imlek Skala besar

“Jika seseorang shionya tidak ada keselarasan yang dibilang bahasa kita adalah Ciong nantinya akan dilakukan puja-puji oleh pendeta klenteng, dibacakan ayat-ayat doa yang diikuti oleh umat . Ciong itu bahasa awamnya pertentangan, bilang aja ada kesialan,” ujar Ketua Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluyo, Senin (17/1/2022).

Kemudian, setelah doa dan puja-puji dilakukan, dilanjutkan tradisi Fang Sheng atau pelepasan makhuk hidup. Bisa melepas burung, ikan atau hewan lainnya.

“Pelepasan hewan ini, yang terpenting adalah makhluk berjiwa yang memberi kebebasan dan melepas kesialan,” ujar Sumantri.

Sumantri mengatakan, pelepasan hewan ini memiliki makna membuang kesialan dalam setahun ini. Perlu diketahui, banyaknya hewan yang dilepaskan ini tidak ditentukan jumlahnya. Ada yang sesuai umur orang yang akan melepaskan, ada yang menganggap sebanyak mungkin.

“Untuk lele misalnya, ini banyak sekali, mungkin puluhan ribu ikan lele. Lha satu keluarga ada yang delapan ratus, seribu, ada yang tujuh ratus ekor. Nanti dilepas di Bengawan Solo, dinaikkan mobil langsung diruwat ke situ,” terangnya lagi.

Selanjutnya, salah satu rangkaian ruwatan ini juga ada pemotongan sedikit rambut yang diyakini bisa membuang kesialan selama setahun ke depan. “Setelah pemotongan rambut, nanti rambut tersebut akan diguyur dengan air yang sudah didoakan dan diberi bunga untuk membuang kesialan juga,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sumantri menjelaskan, selain ruwatan, masih ada banyak prosesi kegiatan yang dilakukan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Antara lain adalah perayaan Cap Go Meh yang dilaksanakan selama 15 hari.

“Kalau Idul Fitri itu seperti bakdo kupat itu. Kalaui bakdo kupat itu semiggu, kalau ini cap nggo itu 15 hari,” terangnya.

Baca juga : Melihat Klenteng Tertua di Semarang yang Berumur 2,5 Abad

Di Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri menerangkan, bahwa dari dulu saat perayaan Cap Go Meh selalu membagikan beras kepada saudara-saudara yang kurang mampu. Khusunya di daerah Sudiroprajan, kemudian untuk kuli gendong, kuli panggul, tukang becak, serta pengemis yang ada di sekitar Pasar Gedhe.

“Jadi teknisnya kita bagi ke saudara kita yang membutuhkan itu, sebelumnya kita minta fotokopi KTP dan setelah masuk ke kita, kita tukar dengan kupon. Tapi karena ini masih suasana pandemi, kita antisipasi pembagiannya tidak di sini. Nanti pembagiannya kita di ruang Aula Pasar Gede sama di Kantor Kelurahan Sudiroprajan, totalnya 12 ton,” paparnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler