BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu suasana pusat oleh-oleh Menara Kudus lumayan lengang. Hanya terlihat beberapa orang berlalu lalang di depan masjid yang sedang mengumandangkan azan asar. Dari beberapa orang itu, ada beberapa yang memasuki masjid untuk munaikan salat. Masjid itu bernama Madureksan, bekas pengadilan di masa Sunan Kudus.
Sejarawan Kudus, Sancaka Dwi Supani menjelaskan, Masjid Madureksan dulunya bernama Padureksa. Sesuai namanya, masjid tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah, di antaranya mendamaikan orang yang bertikai atau orang yang selisih paham. Namun, Pani mengaku tak tahu pasti alasan nama Masjid Padureksa berubah jadi Masjid Madureksan.
“Padureksa itu kan paduan kata padu dan reksa. Padu itu bertikai atau bertengkar, sedangkan reksa itu didamaikan. Bisa dibilang Masjid Padureksa itu dulu pengadilannya pada masa Sunan Kudus,” ujar pria yang akrab disapa Pani kepada Betanews.id, Kamis (27/1/2022).
Baca juga: Masjid Sekayu, Masjid Tertua di Jateng yang Dibangun Sebelum Masjid Agung Demak
Menurutnya, Masjid Madureksan dibangun pada abad 15, tepatnya pada tahun 1520 Masehi. Itu berarti, keberadaan Masjid Madureksan lebih tua dari Menara Kudus yang dibangun pada 956 Hijriyah atau 1549 Masehi.
“Masjid Madureksan memang lebih tua dari Menara Kudus setelah Masjid Langgar Dalem yang dibangun pada tahun Trisulo Pinukut Nogo atau 1458 Masehi,” jelasnya.
Selain sebagai tempat pengadil, lanjutnya, Masjid Madureksan saat itu juga digunakan Sunan Kudus untuk menyusun siasat perang saat beliau menjabat senopati perang Kerajaan Demak. Di antaranya yang diajak mengatur siasat perang adalah Kiai Telingsing.
Bahkan dalam veris lain, terangnya, ada yang menyatakan, bahwa nama Madureksan itu berasal dari Kiai Telingsing. Dikisahkan saat terjadi perdebatan panas di masjid tersebut, Kiai Telingsing bertindak menjadi penengah dan berucap “Yen kowe pada padu, kowe ugo bisa ngrekso” (jika kalian bertengkar, kalian juga bisa menjaga).
“Konon ucapan itu yang kemudian dipakai sebagai nama masjid yakni Padureksa atau Madureksan,” jelasnya.
Baca juga: Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus
Menurutnya, bangunan Masid Madureksan saat ini sudah dipugar. Hal itu bisa dilihat bangunannya yang berbeda dengan tempo dulu. Dia mengatakan, Masjid Madureksan dulu itu bangunannya pendek. Begitu juga pintu masuknya dulu dibikin pendek. Sehingga siapa saja yang masuk harus jongkok dan menunduk.
“Itu ada tujuannya, yakni agar yang setiap orang itu menghormati satu sama lain. Salin menunduk, agar semuanya rukun dan damai,” tandas Pani.
Editor: Ahmad Muhlisin

