BETANEWS.ID, KUDUS – Ahmad Saad (41) terlihat berjalan merangkak di ruang tamu rumahnya di RT 02 RW 01, Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Meski punya raga tak sempurna, dia tampak lihai membawa potongan bahan tas untuk dibawa ke mesin jahit. Hari itu, ia sedang membuat hand bag di usaha yang ia beri nama Azzam Suport itu.
Dia mengatakan, sebelum memiliki usaha, keadaannya yang cacat pernah membuat kepercayaan dirinya hancur. Sebab keadaan kakinya yang lumpuh itu bukan sejak dari lahir, tapi karena kena polio saat usianya genap enam tahun.
“Saat kecil saya bisa berjalan normal. Saya juga naik sepeda. Namun pas terserang polio badan saya panas, malah disuntik. Kemudian terjadilah kelumpuhan,” ujar Saad kepada Betanews.id, Jumat (24/12/2021).
Kelumpuhan tersebut sempat membuat Saad putus asa. Bahkan setelah lulus lulus sekolah dasar (SD), ia mengurung diri karena malu untuk bergaul dengan teman sebayanya. Saad juga tidak mau melanjutkan ke sekolah SMP.
Baca juga: Sambil Mengasuh Anaknya, Difabel Ini Jualan Bakso Murah Meriah di Tepi Jalan
“Saat itu saya benar-benar terpuruk. Hingga ada petugas dari Dinas Sosial Kudus yang meyakinkan saya untuk tetap lanjut sekolah, tapi di Solo. Kata mereka di SMP Solo itu siswa penyandang disabilitasnya tidak hanya diriku. Sehingga nanti ada kawan,” kenangnya.
Dia menuturkan, saat sekolah di Solo itu mentalnya mulai terbangun. Ia bisa bangkit saat melihat orang yang senasib dengannya mampu menjalani hidup dengan semangat. Sejak itu, ia semangat sekolah dan senang bergaul dengan teman-temannya, termasuk dengan orang di kampungnya.
Setelah lulus SMP, Saad pun diajak kerja oleh kakaknya di tempat produksi tas. Awal kerja ia tidak langsung pegang mesin jahit, tapi jadi tukang kemas dan menyiapkan bahan. Dengan keadaan tubuhnya yang lumpuh, saat itu ia mengira dua kakinya tidak kuat untuk menginjak dinamo mesin jahit.
Selang beberapa waktu, ia mencoba memberanikan diri untuk mencoba mengoperasikan mesin jahit. Ternyata kakinya bisa, dan sejak itulah dia belajar menjahit dengan tekun hingga mahir.
“Setelah mahir, saya pun menekuni kerjaan menjahit saya. Saya bekerja menjahit ikut orang selama 12 tahun. Kemudian saya menikah tahun 2010. Setelah menikah itulah, sembari bekerja saya bikin tas sendiri di rumah,” jelasnya.
Baca juga: Cerita Alim, Difabel Semarang yang Bertahan Hidup dengan Penghasilan Rp25 Ribu Sehari
Dia mengaku, tas hasil karyanya ia tawarkan door to door ke beberapa instansi di Kudus, Jepara, dan Demak. Dia bersukur setelah berjalan tiga tahun, tepatnya 2013, usaha kerasnya membuahkan hasil. Orderannya lumayan banyak, dia pun berhenti bekerja dan kemudian menekuni usahanya.
“Alhamdulillah hingga saat ini usaha saya bisa berjalan dan sekarang saya sudah punya empat karyawan,” ungkapnya.
Dia mengatakan memproduksi berbagai macam jenis tas. Di antaranya tas sekolah, tas pinggang, tas tangan, tas selametan, tas gunung, dan lain sebagainya. Dia pun mengungkap, keunggulan tas Azzam Suport yakni lebih kuat dan jahitannya lebih halus.
“Dijamin tas produksi kami lebih kuat. Oleh sebab itu tas Azzam Suport ini sudah laku di seantero negeri,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

