Di ujung selatan Kabupaten Kudus, tepatnya di Kecamatan Undaan, terdapat satu desa kecil di kaki Pegunungan Kendeng utara. Desa tersebut bernama Wonosoco, yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti hutan yang tampak.

Seperti namanya, pegunungan di mana Desa Wonosoco berada, memang tampak hijau jika dilihat dari kejauhan. Namun, jika dilihat dari dekat, Pegunungan Kendeng di sana minim pepohonan alias gundul. Tak mengherankan, desa seluas 500 hektare itu, beberapa tahun terakhir ini sering terkena banjir bandang.

Kepala Desa Wonosoco, Setiyo Budi. Foto: Kaerul Umam

Kalau hujan malam hari ya tidak tidur. Warga menunggu hingga hujan reda, baru tidur

Setiyo Budi, Kepala Desa Wonosoco.

Belum lama ini, tepatnya pada akhir November lalu, desa yang berpenduduk 1200 jiwa itu diterjang banjir bandang. Meski musim hujan terhitung baru mulai dan intensitasnya belum begitu tinggi, namun banjir yang melanda di desa tersebut cukup membuat sejumlah kerusakan.

Banner Ads

Kepada Tim Liputan Khusus Beta News, Kepala Desa Wonosoco, Setiyo Budi (42) mengaku sangat khawatir banjir bandang akan melanda desanya kembali. Bahkan warga tak bisa tidur, ketika hujan deras turun di malam hari.

“Kalau hujan malam hari ya tidak tidur. Warga menunggu hingga hujan reda, baru tidur,” terang Setiyo Budi.

Menurut Budi, banjir bandang di Desa Wonosoco sudah rutinan terjadi setiap tahun. Namun, dia mengatakan, banjir bandang yang menerjang desanya tahun ini lebih parah jika dibanding tahun lalu.

Budi menjelaskan, banjir bandang berbeda dengan banjir genangan. Banjir bandang datang dari atas gunung dengan arus air yang sangat kencang, dan membawa material lumpur dan bebatuan. Untuk membersihkan sisa banjir dan pembenahan akibat kerusakan, biasanya dibutuhkan waktu setidaknya sepekan, bahkan hingga sebulan.

Tinggalkan Balasan