Awan gelap tampak menutupi langit Kudus dan Pati sejak pagi, Senin (29/11/2021) lalu. Menjelang tengah hari, hujan turun dengan derasnya di kedua wilayah yang berada di Lereng Pegunung Muria dan Pegunungan Kendeng tersebut. Saat senja tiba, banjir bandang terjadi di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Sedangkan di wilayah Kabupaten Kudus lainnya, tepatnya di Kecamatan Mejobo beberapa desa juga dilanda banjir. Banjir terjadi karena ada tanggul sungai yang jadi aliran air dari Pegunungan Muria, jebol. Tak hanya merendam ratusan rumah. Banjir tersebut juga merendam ratusan hektar area persawahan.

Gunretno, Ketua JMPPK. Foto: Kaerul Umam

Yang memprihatinkan itu setiap terjadi banjir pasti para pemangku kebijakan dengan entengnya ngomong, bahwa banjir yang terjadi itu akibat curah hujan yang tinggi.

Gunretno, Ketua JMPPK

Bencana yang sama pun terjadi di Kabupaten Pati. Hujan deras mengakibatkan banjir di beberapa kecamatan di Kabupaten Pati. Di antaranya di Kecamatan Pucakwangi, Winong, Tambakromo, Kayen, Gabus serta Jakenan. Tidak hanya menggenangi pemukiman, banjir juga merendam area persawahan di Kecamatan Sukolilo, khususnya di Desa Baturejo.

Banner Ads

Ditemui Tim Liputan Khusus Beta News, Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Gunretno mengatakan, setiap tahun saat musim penghujan datang, area persawahan di beberapa desa di Kecamatan Sukolilo terendam banjir.

Bahkan banjir tahun ini datang lebih cepat. Bila tahun lalu banjir terjadi pada Bulan Desember, tahun ini bulan November sudah terjadi banjir di beberapa wilayah pati, termasuk area persawahan di desa tempat tinggalnya, Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

“Yang memprihatinkan itu setiap terjadi banjir pasti para pemangku kebijakan dengan entengnya ngomong, bahwa banjir yang terjadi itu akibat curah hujan yang tinggi. Padahal banjir yang terjadi kan karena ulah manusia. Banjir ini bukan semata takdir, tapi ulah sebagian manusia,” ujar Gunretno kepada tim Liputan Khusus Betanews.

Tinggalkan Balasan