BETANEWS.ID, KUDUS – Sosrokartono adalah mahasiswa Indonesia pertama yang menyelesaikan studinya di Universitas Leiden Belanda dengan gelar doktorandes (drs). Sosrokartono selama hidupnya dikenal pandai dan punya pemikiran bervisi jauh ke depan, bahkan ia dijuluki Sang Jenius dari Timur. Sosrokartono juga menguasai 36 bahasa.
Ditemui di Makam Sosrokartono, Juru kunci makam keluarga Sedo Mukti Trah Tjondronegaran yakni Temu Sunarto (60) mengatakan, lahir dengan nama Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono, Sosrokartono merupakan keturunan ningrat. Bapaknya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan Bupati Jepara saat itu, dan ibunya bernama Ngasirah yang merupakan garwo ampil atau selir.
“RMP Sosrokartono lahir pada tanggal 10 April 1877 di Desa Mayong, Kabupaten Jepara. Beliau juga kakak kandung dari Pahlawan Nasional, pejuang bagi hak-hak kaum perempuan yakni Raden Ajeng (RA) Kartini,” ujar pria yang akrab disapa Sunarto kepada Betanews.id, beberapa hari yang lalu.

Baca juga : Sosrokartono, Sang Pahlawan Tanpa Tanda Gelar
Terlahir dari keluarga ningrat, Sosrokartono mendapatkan pendidikan yang memadai. Pada tahun 1892, dia tamat sekolah Europeesche Lagere School (ELS) Di Kota Ukir. Kemudian melanjutkan sekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) di Semarang dan lulus pada tahun 1897.
“Usai lulus, Sosrokartono melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Dia adalah mahasiswa Indonesia pertama yang belajar di Belanda,” jelasnya.
Sunarto menuturkan, pada tahun 1897 sampai 1899 Sosrokartono kuliah di Technische Hogeschool di Delft, Belanda. Namun, Sosrokartono yang tidak suka dengan ilmu teknik dan lebih suka sastra dan filsafat kemudian memutuskan untuk pindah kuliah.
“Pada tahun 1899 Sosrokartono pun pindah kuliah di Fakultas Sastra dan Filsafat di Universitas Leiden, Belanda,” tandasnya.
Belum setahun masuk Fakultas Sastra dan Filsafat, Sosrokartono yang sejak kecil terkenal jenius tersebut didapuk untuk berpidato di depan Kongres ke-25 Bahasa dan Kesusastraan Belanda di Kota Gent, Belgia.
“Sosrokartono lulus sebagai sarjana muda pada tahun pada tahun 1901. Usai lulus, Sosrokartono pun memutuskan melanjutkan menimba ilmu hingga lulus sebagai Doktorandus (Drs) di Universitas Leiden pada tahun 1908,” ungkapnya.
Lulus sebagai Doktorandus (Drs) lanjutnya, Sosrokartono dikenal sebagai pemuda yang pintar dan jenius. Beliau menguasai 36 bahasa, 26 bahasa asing dan 10 bahasa dalam negeri. Beliau tidak langsung pulang ke tanah air, tapi melalang buana ke penjuru Eropa.
“Pada tahun 1908, Sosrokartono bersama mahasiswa Indonesia yang ada di Belanda mendirikan Indische Vereeniging, sebuah perhimpunan mahasiswa Indonesia di Belanda,” kata Sunarto.
Pada tahun 1917, surat kabar Amerika bernama The New York Herald Tribune, mengadakan seleksi wartawan, untuk peliputan perang. Sosrokartono yang ahli bahasa dan sastra serta gemar menulis pun ikut seleksi.
Setelah melalui tes yang sangat berat, Sosrokartono pun terpilih sebagai wartawan perang media Amerika tersebut. Hasil liputan Sosrokartono yang paling terkenal adalah, perundingan rahasia perdamaian gencatan senjata pada perang dunia satu.
Setahun kemudian, karena kepandaiannya menguasai banyak bahasa asing Sosrokartono terpilih sebagai juru bahasa tunggal blok sekutu. Serta pada tahun 1919 – 1921 Sosrokartono diangkat sebagai juru bahasa liga bangsa-bangsa, kalau sekarang PBB.
“Selain jenius dan menguasai puluhan bahasa. Sosrokartono juga punya spiritual,” ungkapnya.
Baca juga : RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (1)
Hal itu kata Sunarto, pernah ditunjukan saat menyembuhkan seorang anak Perancis di Geneva yang menderita sakit keras, di saat dokter-dokter tak sanggup menyembuhkan. Pada tahun 1925 Sosrokartono pulang ke Indonesia dan memutuskan untuk menetap di Bandung.
“Di tanah air, Sosrokartono aktif di dunia pendidikan. Di Perguruan Taman Siswa beliau mendirikan Nationale Middelbare School di Bandung. RMP Sosrokartono terpilih sebagai direktur sekolah dan gurunya di antaranya itu Soekarno yang kelak jadi presiden,” bebernya.
Di mengatakan, RMP Sosrokartono wafat di di Bandung pada 8 Februari 1952. Jasadnya disemayamkan di Kudus, tepatnya di Makam Sedo Mukti Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Beliau mangkat tanpa meninggalkan anak dan istri, karena Sosrokartono selama hidupnya memilih hidup melajang.
Editor : Kholistiono

