BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu di Pesarean Sedo Mukti yang berada di tepi Jalan Kudus – Colo Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tampak sepi. Di bagian pojok utara tampak seorang pria mengenakan peci hitam sedang berdoa di sebuah makam. Makam tersebut adalah pesarean Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono.
Seusai berdoa, pria yang diketahui juru kunci Pesarean Sosrokartono bernama Temu Sunarto tersebut sudi berbagi kisah tentang putra dari Mbah Ngasirah tersebut. Dia mengatakan, Sosrokartono adalah putra Bupati Jepara RM Adipati Ario Sosroningrat dengan garwo ampilnya atau selir, yakni Mbah Ngasirah.
Lahir pada 10 April 1877, Sosrokartono merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Beliau juga merupakan kakak dari pahlawan dan pejuang hak perempuan di masa penjajahan Belanda yakni Raden Ajeng (RA) Kartini. Bahkan, kata pria yang akrab disapa Sunarto tersebut, perjuangan RA Kartini tidak lepas dari hasil pemikiran dari Sosrokartono.
Baca juga : RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (1)
“Sosrokartono itu terkenal jenius. Oleh sebab itu, saat itu beliau mendorong agar RA Kartini muncul untuk memperjuangkan hak-hak bagi kaum perempuan Indonesia,” ujar Sunarto kepada Betanews.id, Rabu (10/11/2021).
Sunarto mengungkapkan, sosok Sosrokartono memang terkenal jenius dan pandai. Sebab beliau itu orang Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan kuliah di luar negeri, Universitas Leiden, Belanda. Beliau juga orang Indonesia pertama yang bergelar sarjana (Drs).
Menurutnya, dengan kepandaiannya tersebut, beliaulah yang memberikan ide-ide perjuangan bagi RA Kartini. Menurut Sunarto, Sosrokartono memang tidak ingin muncul sebagai pejuang, oleh sebab itu beliau mendorong sang adik yakni RA Kartini.
“Sosrokartono itu tidak ingin muncul ke permukaan sebagai pejuang. Beliau lebih suka dibalik layar perjuangan kemerdekaan bagi Indonesia,” beber pria yang sudah jadi juru kunci pesarean Sosrokartono selama 30 tahun tersebut.
Selain jadi sosok pemikir di balik perjuangan RA Kartini, Lanjut Sunarto, Sosrokartono juga ikut merintis kemerdekaan Negara Indonesia. Namun keikutannya tersebut tetap di balik layar.
Bahkan, beliau bersama Ir Soekarno dan KH Hasyim Asyari yang menentukan hari kemerdekaan.
“Beliau juga ikut berperan dalam perundingan Linggar Jati yang mana, Belanda mengakui secara de facto kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.
Baca juga : RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (5-Habis)
Setelah Indonesia merdeka, tutur Sunarto, sebenarnya Sosrokartono pernah ditawari untuk masuk ke dalam pemerintahan. Namun, hal itu ditolaknya. Sebab perjuangannya itu didasari oleh ketulusan bukan pamrih. Oleh sebab itu, Sosrokartono lebih banyak sibuk di dunia pendidikan.
“Dengan bekal pendidikan yang didapatkannya di Universitas Leiden, Belanda, Sosrokartono ingin mencerdaskan bangsa. Beliaulah yang mendirikan Yayasan Budi Utomo dan Taman Siswa,” bebernya.
Sunarto mengatakan, Sosrokartono wafat di Bandung pada hari Jumat (8/2/1952) Pahing. Kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Sedo Mukti, dikebumikan satu kompleks dengan makam Keluarga Sedo Mukti trah Tjondronegara, seluas dua hektare.
Editor : Kholistiono

