Pada masa kolonial Belanda, Indonesia pernah berjaya dalam industri gula. Bahkan pada masa itu Indonesia masuk jajaran produsen dan pengekspor gula terbesar di dunia. Namun ironi, setelah merdeka industri gula kian meredup, dan sekarang justru menjadi negara pengekspor.

Prof. Dr. Wasino, Guru Besar Sejarah Unnes. Foto: Kaerul Umam

Kepada Tim Lipsus Beta News, Guru Besar Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Dr. Wasino mengatakan, Indonesia pernah mengalami era kejayaan gula pada tahun 1930-an dengan prestasi tertinggi sebagai negara pengeksport gula sebanyak 2,4 juta ton.

“Produksi puncak pada saat itu mencapai 3 juta ton dengan rendemen 11 sampai 13,8 persen. Berarti dari fakta tersebut, sudah 91 tahun berlalu Indonesia meninggalkan era kejayaan industri gula,” ujar Wasino kepada Tim Lipsus Beta News, beberapa waktu lalu.

Banner Ads

produksi gula dalam negeri benar-benar jatuh pada masa pemerintahan Orde Baru. Sebab pada pemerintahan presiden Soeharto itu merubah kebijakan dan mencanangkan Green Revolution

Prof. Dr. Wasino, Guru Besar Sejarah Unnes

Dia mengatakan, pada pemerintahan Hindia Belanda, Indonesia memang berjaya dalam produksi gula, tapi meredup setelah merdeka. Namun, bukan berarti industri gula saat Pemerintahan Hindia Belanda itu tidak ada pasang surutnya.

“Jadi jangan dibayangkan industri gula pada saat itu naik terus. Beberapa kali juga terjadi krisis. Tapi yang paling mengerikan itu pada tahun 1930 saat ada krisis malaise yaitu krisis ekonomi dunia,” ujar Wasino beberapa hari yang lalu.

Wasino melanjutkan, krisis tersebut sempat membuat industri gula kolaps, tahun 1939 industri gula mulai naik lagi. Namun, beberapa tahun industri gula naik, pada tahun 1942-1945 Indonesia diduduki Jepang, dan Belanda jatuh. Karena Pemerintahan Hinda Belanda di bawah Belanda, dengan kedatangan Jepang otomatis Pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia pun bubar.

“Pada masa Penjajahan Jepang itu gula kehilangan nilai strategisnya. Karena Jepang tidak berkepentingan terhadap industri gula, sebab dianggap tidak bisa dipakai untuk mendorong perkembangan perang,” bebernya.

Tinggalkan Balasan