Tanaman tebu yang menjadi bahan utama produksi gula sudah ada sejak lampau, sebelum VOC maupun Hindia Belanda datang ke Indonesia. Melihat potensi tanaman tebu yang begitu besar di Indonesia, Belanda kemudian mengkapitalisasi industri gula. Berkat gula dari Indonesia, Belanda menjadi negeri yang sangat kaya raya.

Prof. Dr. Wasino, Guru Besar Jurusan Sejarah Unnes. Foto: Kaerul Umam

Kepada tim liputan khusus Beta News, Guru Besar Jurusan Sejarah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Dr. Wasino mengatakan, gula menjadi komoditas terbesar yang diproduksi dan diperdagangkan Pemerintah Hindia Belanda, usai komoditas rempah-rempah di masa kekuasaan VOC. Saat itu, Hindia Belanda menjadi pengekspor gula terbesar di dunia.

“Jadi kekuasaan Belanda itu dibagi dua masa. Pertama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) itu dibangun dari rempah-rempah, pala, dan merica. Setelah VOC bubar, digantikan Pemerintahan Hindia Belanda dan komoditas terbesarnya yaitu gula,” ujar Wasino saat ditemui di Unnes, beberapa waktu lalu.

Banner Ads

Jadi Belanda tinggal menggandeng para bupati, agar rakyatnya menanam tebu. Dulu, tanah kan milik penguasa lokal, rakyat harus ikut penguasanya.

Prof. Dr. Wasino, Guru Besar Sejarah Unnes

Pada masa tanam paksa sampai revolusi masa kolonial liberal, kata Wasino, Pemerintah Hindia Belanda membangun industri gula besar-besaran. Meraka membangun pabrik gula dari ujung barat hingga ujung timur di tanah Jawa. Mereka juga menerapkan tanam paksa untuk menggarap pertanian tebu untuk diproduksi menjadi gula. Kekayaan terbesar pemerintah kolonial saat itu bersumber dari produksi dan perdagangan gula.

Dalam menjalankan industrialisasi gula, Belanda menggandeng penguasa-penguasa lokal dan pengusaha Tionghoa untuk menggenjot produksi gula. Pabrik-pabrik gula dikuasai oleh bos-bos sebagai sindikat.

“Kalau Semarang misalnya, itu ada yang namanya Oei Tiong Ham. Kemudian Ada juga kalangan penguasa lokal, seperti di Solo yakni dari keluarga Mangkunegara. Itu yang bagian produksi, nanti yang bagian penjualan ada CV masing-masing,” katanya.

Dari sekian banyak perusahaan gula kala itu, kata Wasino, yang terbesar adalah milik Oei Tiong Ham. Menurutnya, perusahaan gula yang dimiliki Oei Tiong Ham pernah mengekspor gula hingga keluar negeri.

Tinggalkan Balasan