Jauh sebelum Belanda masuk ke Indonesia, tanaman tebu diketahui melimpah di bumi Nusantara, khususnya di tanah Jawa. Pada zaman kerajaan, tanaman tebu tersebut oleh masyarakat diolah menjadi gula merah, atau masyarakat juga sering menyebutnya sebagai gula tumbu atau gula jawa.

Edy Supratno, sejarawan di Kudus. Foto: Kaerul Umam

Di wilayah Muria (Kudus, Jepara dan Pati), tercatat sejak tahun 1719 ada ada 37 pabrik gula merah. Meski sebagian besar pengelola pabrik gula pada masa itu dilakukan oleh orang Jawa, namun ada level-level tertentu yang dikelola orang Tionghoa.

Kepada Tim Beta News, sejarawan di Kudus, Edy Supratno mengatakan pada level tertentu pengolahan tebu dikuasai orang Tionghoa. Menurutnya, hal itu terjadi karena orang Tionghoa lebih menguasai manajemen dan teknologi pembuatan gula jawa atau gula tumbu.

Banner Ads

“Tentu pengertian pabrik zaman itu mungkin industri rumahan begitu ya. Jadi bukan pabri seperti yang dibuat oleh orang Belanda,” kata Edy Supratno saat ditemui Tim Liputan Khusus Betanews beberapa waktu lalu.

Saya hanya ingin menegaskan, bahwa sebelum Belanda datang, masyakat kita sudah lebih dulu membuat gula.

Edy Supratno, sejarawan di Kudus

Sambil membuka catatan ditangannya, sejarawan yang akrab disapa Edy itu menjelaskan bahwa pada masa itu masih ada kerajaan. Namun, orang Belanda yang telah masuk ke Indonesia di bawah bendera Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), juga mulai melirik tanaman tebu.

“Saya hanya ingin menegaskan, bahwa sebelum Belanda datang, masyakat kita sudah lebih dulu membuat gula. Jadi tanaman tebu sudah eksis di Indonesia sebelum Belanda datang,” tegas Kepala Sekolah Tinggi Ilmu Budaya Islam (STIBI) Syekh Jangkung Pati tersebut.

Dia juga menduga, karena melihat melimpahnya komoditas tebu itulah, Belanda membuat industrialisasi gula di Indonesia. Memang, pada saat itu situasi pasar internasional sangat membutuhkan gula. Setelah datang ke Indonesia, Belanda memetakan wilayah yang akan dibuat untuk menanam tebu.

“Saya melihatnya dari sisi tadi, rentetannya, bahwa Belanda masuk kesini, kemudian mereka melihat potensi yang cocok. Kemudian mereka menata lahan dan memanfaatkan sungai untuk pengairannya. Ada wilayah pertanian dan perkebunan. Kecamatan Bae ini namanya land baw, itu daerah-daerah pertanian yang didukung oleh irigasi,” terang Edy.

Tinggalkan Balasan