Siang itu matahari terasa terik, saat seorang pria berpeci mengamati tanaman tebu di area persawahan Desa Ngembal Rejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Pria tersebut adalah M Nur Khabsyin, Sekretaris Jendral Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI).

M Nur Khasyin, Sekjend APTRI

Di area persawahan tanaman tebu tersebut, Khabsyin menunjukkan kepada Tim Liputan Khusus Beta News, kondisi tanaman tebu di daerahnya. Menurutnya, saat ini menjadi petani tebu sangat tidak menguntungkan.

“Menjadi petani tebu sekarang sangat sulit, selain harga yang dipatok selalu merugikan, impor juga sering membuat harga gula di pasaran sering anjlok,” kata Khabsyin kepada Tim Lipsus Beta News, beberapa waktu lalu.

Banner Ads

Gula luar negeri yang lebih murah ini mempengaruhi harga jual gula petani, sehingga gula petani ini tidak laku.

M Nur Khabsyin, Sekjen APTRI

Menurtnya, ironi melihat kondisi gula di Indonesia saat ini. Sebagai negara agraris, Indonesia justru selalu impor gula untuk menutupi kekurangan. Bahkan, rata-rata impor gula Indonesia mencapai 500 Ton.

“Karena produksi gula dalam negeri itu hanya 2 juta Ton, sementara kebutuhannya adalah 2,5 juta Ton, sehingga masih mengimpor sekitar 500 ribu Ton. Akan tetapi jumlah impor ini seringkali melebihi dari kebutuhan. Tahun lalu saja itu impor gula kurang lebih 800 ribu ton. Sehingga ini berdampak kepada petani, karena mempengaruhi harga gula,” terangnya.

Khabsyin mengatakan, hal tersebut merupakan persoalan klasik. Kebijakan pemerintah dianggap tidak berpihak kepada petani dan industri gula dalam negeri. Hal itu membuat minat petani tebu semakin berkurang.

Setiap masa panen dan musim giling, menurutnya selalu ada impor gula masuk atau sisa impor masih ada. Sehingga mempengaruhi harga jual gula dan tebu petani. Tidak dimungkiri, memang ada selisih harga antara gula dalam negeri dengan gula luar negeri.

“Gula luar negeri yang lebih murah ini mempengaruhi harga jual gula petani, sehingga gula petani ini tidak laku. Contoh tahun ini saja, tahun 2021 masih ada sisa impor sekitar 300 ribu Ton. Saat ini gula hanya laku Rp 10.400 sedangkan tahun lalu laku Rp 11.200. Nah ini kan sangat merugikan petani,” keluhnya.

Tinggalkan Balasan