Dia area persawahan di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus tampak hamparan berhektar tanaman tebu. Dibawah sengat matahari serta cucuran keringat, beberapa petani yang rata-rata paruh baya itu terlihat merawat tanaman penghasil gula tersebut. Sesekali mereka menepi dan berteduh di bawah pohon untuk istirahat.

M Nur Khabsyin, Sekjend APTRI. Foto: Kaerul Umam

Para petani tebu itulah ujung tombak utama produksi gula nasional. Namun, mereka justru masih dianggap jauh dari kata sejahtera. Selain sulitnya mendapatkan akses pupuk, pemerintah juga dinilai tidak berpihak pada petani tebu dengan kebijakannya terkait impor dan penentuan harga gula.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin. Kepada Tim Liputan Khusus Beta News, keadaan petani tebu Indonesia saat ini sangat memprihatinkan.

Banner Ads

“Kalau dikatakan sejahtera ya belum. Penyebabnya, karena kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani tebu. Mereka itu selalu rugilah,” ujar pria yang akrab disapa Khabsyin kepada Tim Liputan Khusus Beta News, beberapa waktu lalu.

Kalau dikatakan sejahtera ya belum. Penyebabnya, karena kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani tebu

M Nur Khabsyin, Sekjend APTRI

Menurut Khabsyin, selama ini ada beberapa kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani. Di antaranya kebijakan impor gula justru pada saat panen atau saat musim giling tebu. Menurutnya, banyaknya gula impor menjadikan harga gula petani anjlok. Padahal petani tebu sangat tergantung pada keuntungan saat panen.

“Para petani tebu itu seolah dihantui harga gula jatuh saat musim panen. Hal itu dikarenakan setiap musim panen tebu pemerintah justru impor gula. Jadinya gula melimpah dan harga pun anjlok. Padahal para petani tebu itu berharap saat panen tebu harga gula bisa stabil, biar mereka bisa meraup untung,” bebernya.

Khabsyin mengatakan, jika petani untung pada saat panen, mereka akan memperbanyak luasan lahan, serta merawat tanaman dengan baik. Namun sebaliknya, kalau merugi pada tahun berikutnya para petani tebu akan mengurangi jumlah tanaman dan merawat tanaman dengan biasa-biasa saja, karena tidak memiliki modal tambahan.

“Jadi kondisi petani tebu saat ini masalahnya selalu klasik, ya soal harga gula dan tebu yang selalu jatuh pada saat panen, akibat adanya impor gula. Memang produksi dalam negeri selama ini tidak bisa menutupi kebutuhan gula nasional, tapi kuota impor yang dikeluarkan itu biasanya melebihi yang dibutuhkan. Belum lagi masalah rembesnya gula rafinasi atau gula industri ke pasar yang menjadikan petani tebu makin menderita,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan