Wasino mengatakan, menurunnya produksi tebu juga dikarenakan pengelolaan tanaman tebu yang kurang memadai. Kerja sama pihak pabrik gula dan petani tebu yang berbeda dengan saat pemerintah Hindia Belanda juga mempengaruhi produksi gula. menurutnya, pada zaman Belanda pabrik gula itu menanam tebu dengan cara menyewa lahan kepada rakyat.

Pada zaman Belanda, kata Wasino, ada jaminan dari penguasa daerah mulai lurah hingga bupati. Lurah bertugas mengawal, bahwa ada jaminan sewa tanah untuk menanam tebu. Ada jaminan tenaga kerja yang bekerja untuk tebu yang kemudian menjadi pendukung pabrik gula.

“Paska merdeka tebu kan ditanam rakyat kemudian dijual ke pabrik gula. Karena ditanam rakyat itu jaminan kualitas tebunya tidak ada. Sehingga ketika dijual ke pabrik gula, tebu itu harganya rendah,” jelasnya.

Banner Ads
Edy Supratno, sejarawan di Kudus. Foto: Kaerul Umam

Hal senada juga diungkapkan oleh sejarawan Kudus Edy Supratno. Saat ditemui di kediamannya, pria yang akrab disapa Edy itu menuturkan, penurunan produksi gula sebenarnya tidak hanya terjadi paska Indonesia merdeka. Namun beberapa kali sudah terjadi pada Pemerintahan Hindia Belanda yang terkenal dengan produksi gulanya.

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi gula di Indonesia sebelum atau sesudah Indonesia merdeka,” ujar Edy kepada tim liputan khusus Beta News.

Ia pun kemudian menjelaskan beberapa faktor tersebut. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda penurunan produksi gula diakibatkan karena perang, serta penyakit. Namun, penyakit itulah yang kemudian memacu Belanda untuk melakukan riset bibit tebu unggulan dan berhasil. Bahkan, bibit tebu sekarang itu hasil riset Belanda.

“Itulah dampak positif dari adanya penyakit itu, Belanda bisa membuat bibit tebu yang bagus. Bahkan sampai saat ini bibit hasil riset Pemerintahan Hindia Belanda masih dipakai,” ungkapnya.

Selain itu, ada faktor lain terjadinya penurunan produksi gula, yakni permintaan gula dari luar negeri menurun. Di luar negeri sudah ditemukan gula yang diproduksi dengan bahan selain tebu, yakni gula bit. Ketika tebu sudah tak lagi penghasil gula yang utama, maka permintaan gula dari Indonesia pun turun.

“Selain itu ada penurunan luas areal untuk tanam tebu. Penyebabnya adalah kekeringan. Karena tanamam tebu itu akan bagus hasilnya saat ditanam di lahan yang irigasinya bagus. Satu di antaranya yang cocok untuk pertanian tebu dari dulu adalah wilayah Muria Raya,” ujarnya.


Tim Lipsus 11: Rabu Sipan (Reporter/Host), Ahmad Rosyidi, Kaerul Umam Reporter/Videographer), Suwoko (News Editor), Andi Sugiarto (Video Editor), Manarul Hidayat (Videographic) Lisa Mayna Wulandari (Translator), Ludfi Karmila (Transkriptor), Dian Ari Wakhidi (Crew).

Tinggalkan Balasan