BETANEWS.ID, KUDUS – Di perempatan Desa Penganjaran, terlihat seorang kakek sedang menjajakan buku pada pengendara kendaraan yang lewat. Tak henti-hentinya ia berbicara pada setiap orang yang ia temui di jalanan itu, berikut menginformasikan harga dari barang jualannya itu. Ketika lampu lalu lintas berubah hijau, ia kembali ke lapaknya yang berada tak jauh dari jalan itu.
Madekun (74) namanya. Pria yang hari itu mengenakan batik berwarna cokelat dan berpeci hitam itu terus mengulangi usahanya meyakinkan pengendara yang lewat untuk membeli dagangannya. Raut wajahnya tampak begitu semringah saat ada yang memutuskan membeli. Dengan semangat, ia lantas membungkuskan buku yang dibeli sambil membacakan doa pada pembelinya.

Menurutnya, cari nafkah dengan cara jual buku itu sudah ia tekuni sejak 2018 lalu. Setriap harinya ia mulai menggelar lapak dari pukul 10.00 WIB hingga 16.30 WIB. Ia berkeyakinan, selagi masih mampu bergerak, akan terus berusaha mencari nafkah sendiri.
Baca juga: Tetap Produktif di Hari Tua, Mbah Temu Bisa Untung Jutaan dari Bisnis Tembakau
“Kalau saya pribadi, selagi masih bisa bergerak dan masih kuat untuk mencari nafkah sendiri, akan saya lakukan demi tidak menggantungkan orang lain, terlebih kepada anak,” beber Madekun kepada betanews.id, Senin (25/10/2021).
Sehari-hari, ia jualan juz amma, yanbua, iqro’, buku fasolatan, dan kalender tahun 2022. Harganya pun terjangkau mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan untuk kalender harganya Rp 25 ribu.
“Penjualan lumayan ya, karena saya percaya kepada Allah. Alhamdulillah rezeki barokah. Alasan utama berjualan buku ini, karena ingin memperjuangkan kalimat Allah, supaya siapa saja yang membeli buku ini nantinya bisa bermanfaat,” kata warga Desa Klumpit RT 6 RW 1, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
Baca juga: Enggan Bebani Anak, Mbah Harsono Tetap Semangat Jadi Tukang Sol Sepatu di Pinggir Jalan
Karena ia percaya pasti ada yang membeli dagangannya, kata Madekun, setiap harinya ia mampu menjual buku-bukunya maupun kalendernya hingga 15 item. Dirinya tak hanya memperjualbelikan kitab saja, melainkan dirinya juga menerima pesanan pembuatan seragam maupun sebagainya.
“Saat ada pandemi Covid-19, sudah tidak menerima jahitan lagi. Biasanya kalau ada pesanan, saya dibantu anak di rumah, dan dia yang menjahit. Sedangkan saya yang bagian memotong kainnya,” tutup Mbah Madekun.
Editor: Ahmad Muhlisin

