BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi jalan Jenderal Sudirman tepatnya di dekat lampu lalu lintas pentol, terlihat seorang kakek yang sedang memperbaiki sol sepatu. Kerutan-kerutan di wajahnya tampak jelas saat ia mengerahkan segenap tenaga untuk menguatkan jahitan sepatu itu. Meski terlihat agak kepayahan, tangan rentanya itu bisa memperbaiki sol tersebut agar bisa segera dipakai pelanggannya. Dia adalah Achmad Harsono (68) tukang sol sepatu dan sendal.
Harsono memulia kisahnya jadi tukang sol sepatu sejak 2017 lalu. Di usia senjanya, ia masih gigih mencari nafkah lantaran tak ingin bebani anaknya. Dengan mengendarai sepeda dari rumah menuju tempat biasa ia mangkal, ia niatkan itu semua untuk olahraga demi kesehatan tubuhnya.

“Langkah ini merupakan pedoman hidup saya dari dulu. Dengan tubuh yang masih sanggup untuk beraktivitas mencari nafkah pasti akan saya lakukan,” bebernya kepada betanews.id, Selasa (10/8/2021).
Baca juga: Karyadi, Kakek Renta yang Tetap Jualan Koran Agar Tak Repotkan Anaknya
Dengan tidak menyusahkan orang lain dan juga anak-anaknya, Harsono, masih bersyukur dengan pendapatan yang ia dapatkan. Meski, tidak setiap hari ada sepatu atau sandal yang diservis. Menurutny dalam sehari ada tiga atau empat sepatu maupun sandal yang dikerjakan.
“Pernah itu dalam sehari tidak mendapatkan penghasilan, bahkan lima hari tidak mengerjakan servis sepatu dan sandal. Ya pokoknya bersyukur aja, masih diberikan kesehatan dan masih beraktivitas seperti biasa,” papar warga Kelurahan Wergu Kulon, RT 3 RW 1, Kecamatan Kota, Kudus itu.
Untuk tarif jasanya, ia mematok mulai dari Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, hingga Rp 30 ribu, tergantung dari jenis barang dan juga kerumitannya.
Baca juga: Dipecat Karena Pandemi, Buyung Justru Dapat Berkah dari Berjualan Kue Gandos
“Kalau untuk harga bermacam-macam, karena tergantung dari jenis dan kerumitan barang. Jika ada pemesanan pembuatan sandal maupun sepatu, saya juga bisa membuatkannya,” tutur kakek yang dikaruniai 5 anak tersebut.
Ia mengisahkan, sebelum jadi tukang sol dulunya Harsono kerja sebagai sopir pribadi dan beberapa perusahaan. Silih berganti menjadi sopir ia lakoni sejak 1980. Kemudian kurang lebih pada 1998 ia memutuskan berhenti menjadi sopir, lantaran pekerjaan itu punya banyak resiko dan kendala.
“Menurut saya, menjadi sopir itu berat. Karena di jalan kalau nggak ditabrak ya nabrak. Hal tersebut membuat saya tidak lagi menjadi sopir,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

