31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaKUDUSMahasiswa Tuntut Rektor...

Mahasiswa Tuntut Rektor UMK dan 3 Wakilnya Mundur

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muria Kudus (UMK) bertemu dengan Bupati Kudus HM Hartopo di Pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (8/10/2021). Mereka menyampaikan adanya sejumlah pelanggaran yang dilakukan Rektor UMK dan beberapa jajarannya.

Pada kesempatan itu, mahasiswa juga menuntut agar Rektor UMK Darsono untuk mundur dari jabatannya, karena dinilai sudah melanggar sumpah jabatan.

Kemudian, mahasiswa juga menuntut agar Wakil Rektor I Sulistyowati juga mundur dari jabatannya, karena dinilai cacat moral. Wakil Rektor I disebut memposisikan diri lebih tinggi dari Rektor dan suka mengintimidasi dosen dan mahasiswa UMK.

BEM UMK saat melakukan audiensi dengan Bupati Kudus HM Hartopo dan Ketua Yayasan Pengurus UMK di Pendapa Kudus, Jumat (8/10/2021). Foto: Ist
- Ads Banner -

Baca juga : Bupati Kudus Sayangkan Adanya Intimidasi Oknum Dosen UMK Terhadap Mahasiswa

“Kami juga menolak dunia akademik dimasuki orang politik. Kemudian, Wakil Rektor II juga harus mundur, karena tidak sesuai dengan persyaratan yang telah
ditentukan oleh Rektor. Selanjutnya, Wakil Rektor III pun harus mundur karena sakit menahun (jantung dan parkinsen),” ujar M Alvin Rizqiya, Ketua BEM UMK.

Lebih rinci Alfin menyampaikan hasil identifiksi permasalahan dan pelangganggaran yang disampaikan oleh para sivitas akademika UMK.

Pertama, mereka menganggap Rektor UMK Darsono melanggar tata kelola di statuta UMK. Di mana memposisikan wakil rektor lain di bawah Wakil Rektor I.

Kedua, mereka mengklarifikasi bahwa orang tua WR I adalah seorang guru, bukan jenderal TNI sebagaimana diakui WR I. Ketiga, Rektor melanggar tata kelola di statuta dengan kebijakan yang sangat meresahkan.

“Rektor mengeluarkan SK mengenai WR I merangkap jabatan sebagai Plt Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB). Sedangkan yang bersangkutan bergelar di bidang Ilmu Hukum dan home base di Fakultas Hukum. Di sisi lain, ada beberapa orang dosen FEB yang memenuhi syarat menjadi Dekan FEB,” ungkap Alvin di depan Bupati disaksikan langsung Ketua Yayasan Pengurus UMK.

Kemudian, katanya, tanpa pertimbangan Senat UMK, Rektor mengangkat Solekhan menjadi WR II. Padahal saat itu, Solekhan masih menjadi Asisten Ahli pada saat dilantik menjadi WR II.

“Itu melanggar SK Rektor tentang pengangkatan Wakil Rektor yang dibuat sendiri oleh Rektor,” ungkapnya.

Tidak berhenti di situ, mereka juga mengkritik kinerja WR III Joko Utomo yang telah sakit parah menahun. Sehingga tidak mampu menjalankan tugas berbulan-bulan dan semua tugas WR III dijalankan WR IV Achamd Hilal. Meski demikian, posisi WR III masih dipertahankan untuk Joko Utomo, sehingga membuat pekerjaan WR III sangat terganggu.

Dalam audiensi itu pula, para mahasiswa menduga bahwa pemilihan pejabat struktural di UMK terindikasi atas dasar like atau dislike (suka atau tidak suka). Yakni, tergantung siapa yang disenangi oleh WR I. Bahwa siapa yang disukai Sulistyowati bisa menduduki jabatan struktural di UMK tanpa melihat kompetensi yang dimiliki.

“Ini terbukti dengan tes yang dinamakan korn ferry tidak terbuka dan tidak mengumumkan hasilnya, sehingga tidak ada satupun peserta yang tahu hasilnya selain panitia. Jadi yang diangkat bukan yang terbaik. Tapi terserah yang berkuasa atau bukan yang kompeten,” terangnya.

Mahasiswa juga mengungkapkan, bahwa selama ini mereka merasa dibungkam. Tidak diberi ruang bebas untuk menyampaikan aspirasinya di lingkup kampus. Mereka juga menyebutnya sebagai pembungkaman demokrasi.

Menanggapi apa yang disampaikan para mahasiswa, Bupati Kudus HM Hartopo meminta kepada KetuaYayasan bisa menindaklanjuti hal tersebut. Manajemen UMK menurut Hartopo memang harus diperbaiki.

“Pembungkaman demokrasi, itu tidak boleh. Menyuarakan ketidakjelasan di kampus, memang perlu disuarakan,” kata Hartopo.

Hartopo juga meminta kepada Ketua Yayasan agar bisa membuka diri ketika mahasiswa minta perlindungan dan menyampaikan aspirasi. Bisa menghubungi lewat WhatsApp atau apapun.

Baca juga : Peringati Hari Perempuan Sedunia, Mahasiswa Kudus Gelar Aksi Damai

Sementara itu, Ketua Yayasan Pembina UMK Wahyu Wardhana mengatakan, akan menindaklanjuti semua keluhan mahasiswa. Pihaknya berencana membuka kanal pengaduan.

“Kami akan menindaklanjuti hal ini. Kami berencana membuka kanal pengaduan,” jawabnya.

Sedangkan untuk pelanggaran lain yang diduga dilakukan Rektor dan beberapa wakilnya, hal itu akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan.

“Tentunya saya akan koordinasi dengan Rektor terlebih dahulu. Kemudian ada tindakan tegas dan tindakan nyata,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler