31 C
Kudus
Selasa, September 21, 2021
spot_img
BerandaUMKMImbas Covid-19, Produksi...

Imbas Covid-19, Produksi Jamu Tradisional di Gembong Pati Ini Meningkat Drastis

BETANEWS.ID, PATI – Pandemi Covid-19 justru menjadi peluang manis bagi sebagian para pelaku usaha produksi jamu tradisional. Seperti halnya yang dialami kelompok Paguyuban Seger Waras Desa Pohgading, Kecamatan Gembong, Pati.

Menurut Suhartini, Ketua Paguyuban Seger Waras, sejak pandemi Covid-19, permintaan jamu rempah-rempah mengalami peningkatan yang lumayan tinggi. Sehingga, produksi jamu harus digenjot untuk memenuhi permintaan pasar.

“Kalau dipersentasekan mungkin yang sekitar 50 persen peningkatannya. Kalau biasanya kami hanya produksi seminggu dua kali, kini dengan adanya permintaan yang tinggi, setiap hari kami harus produksi,” ujar Suhartini, Rabu (1/9/2021).

Beberapa orang sedang mengemas jamu tradisional yang diproduksi Paguyuban Seger Waras Gembong. Foto: Ist
- Ads Banner -

Baca juga : Dari Tingkatkan Imun Hingga Bikin Rileks, Ini Sederet Manfaat Tisane yang Perlu Dicoba

Ia menyebut, untuk sekali produksi bisa menghabiskan satu kwintal bahan baku. Di antaranya, jahe, kencur, kunyit, sereh dan lain sebagainya.

Menurutnya, untuk produksi jamu tradisional tersebut, ia melibatkan seluruh anggotanya yang berjumlah 20 orang. Mereka berasal dari Desa Pohgading dan sekitarnya.

Namun, dengan adanya permintaan yang tinggi tersebut, pihaknya mengaku mengalami kendala bahan baku, khususnya jahe merah yang kini sulit didapat. Sehingga, pihaknya terpaksa harus mendatangkan dari luar pulau Jawa.

“Untuk produk jamu yang kami buat, di antaranya adalah beras kencur, kunyit, kunir putih maupun jamu empon-empon Jawa. Sedangkan pemasarannya, kami biasanya menjual di warung-warung dan juga kami pasarkan melalui medsos,” ungkapnya.

Sedangkan untuk harga, katanya, jamu tradisional buatan Paguyuban Seger Waras dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau. Mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.

Sementara itu, Slamet Kurniawan, Pembina Paguyuban Seger Waras dari Puskesmas Gembong menyampaikan, paguyuban tersebut berdiri sejak sebelum pandemi, tepatnya awal 2019 yang merupakan binaan dari Puskesmas Gembong.

Baca juga : Di-PHK Saat Pandemi, Hidayat Bangkit Rintis Wedang Pace yang Kini Banyak Diminati

“Ketika awal berdiri, paguyuban ini bergerak di bidang sosial. Yakni, dana yang terkumpul dari hasil penjualan produk jamu, digunakan untuk bantuan kemanusiaan,” ungkapnya.

Namun, kini pihaknya pun melakukan pembinaan hingga pengurusan izin produksi dan berbadan hukum. Hal ini, untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan, serta dapat menjadi ladang mencari nafkah bagi anggota paguyuban. “Artinya, ini tidak hanya bergerak di bidang sosial saja,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 7 - Sejarah Kereta Api Pertama di Indonesia dan Reaktivasi Jalur Semarang-Lasem

Tinggalkan Balasan

30,414FansSuka
14,922PengikutMengikuti
4,321PengikutMengikuti
52,135PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler