31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Begini Penampakan Makam Sunan Kudus Saat Luwur Dibuka

BETANEWS.ID, KUDUS – Luwur (kelambu) yang biasa menutup Makam Syekh Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus, sejak 1 Muharam 1443 H atau bertepatan pada Selasa (10/8/2021) dilepas. Pelepasan luwur tersebut merupakan rangkaian dari prosesi buka luwur Makam Sunan Kudus.

Dilepasnya luwur Makam Sunan Kudus, hanya dilakukan setahun sekali. Semua luwur yang menutup seluruh ruang utama Makam Sunan Kudus, mulai dari penutup nisan, jirat, ranjam, dan fitrage dilepas untuk diganti baru. Selain melepas luwur, juga dilakukan pembersihan di semua bagian makam.

Jika biasanya cungkup makam ditutupi luwur, saat ini cungkup tersebut benar-benar terbuka. Dinding cungkup yang berbentuk kubus tersebut, terbuat dari bebatuan kapur dengan ukiran dan ornamen yang cukup indah.

-Advertisement-

Baca juga : Penggantian Luwur Makam Sunan Kudus Butuh 1.588 Meter Kain Mori

Ornamen berbentuk bunga tersebut juga memiliki lubang angin. Sehingga, dari lubang tersebut, peziarah yang berada di dekat cungkup bisa melihat langsung Makam Sunan Kudus yang biasanya tertutup luwur.

Makam Sunan Kudus, akan kembali ditutup luwur pada 10 Muharram atau 20 Agustus mendatang.

“Seperti tahun sebelumnya, tanggal 1 Muharram itu memang pelepasan luwur. Tahun ini karena masa pandemi, hanya diperuntukkan bagi internal saja dan terbatas,” kata Humas Panitia Buka Luwur Makam Sunan Kudus, Muhammad Kharis, Selasa (10/8/2021).

Sebelum melepas luwur Makam Sunan Kudus, Kharis menjelaskan, bahwa tidak ada ritual khusus yang dilakukan. Para panitia yang berjumlah 34 orang bersama-sama tahlilan dan membaca doa. Setelah itu, pelepasan luwur baru dimulai.

“Tadi kita mulai setelah Salat Subuh, sekitar jam 6 pagi. Selesai sekitar jam 9 tadi. Nanti luwur yang lama ini akan dibagikan ke masyarakat umum,” jelas Kharis.

Seperti tahun sebelumnya, Kharis juga menjelaskan, bahwa ada empat motif dalam kain luwur Makam Sunan Kudus. Yakni motif kompol, motif melaten, motif wiru, dan motif ranjam. Motif tersebut dibuat dengan kualitas kain yang berbeda. Pemasangannya juga memiliki tempatnya sendiri-sendiri.

Seperti motif ranjam, diletakkan di area dalam. Motif kompol yang diletakkan di pojok-pojok makam. Serta motif melaten yang digunakan untuk menghias bagian dalam. Sedangkan Dan motif waru digunakan untuk menutup bagian luar.

Sementara untuk tradisi pembagian nasi jangkrik, Kharis mengatakan, bahwa tahun ini akan berbeda dengan sebelumnya. Nasi jangkrik tidak lagi dibagikan kepada warga yang datang ke makam. Para panitia akan membagikan nasi jangkrik ke rumah-rumah, tersebar di 9 kecamatan. Untuk menghindari kerumunan. Terlebih masih dalam masa pandemi covid-19.

“Nasi jangkrik tidak dibagikan secara umum. Tahun ini kita kita langsung bagikan ke rumah warga,” katanya.

Baca juga : Belum Ada Sumber Sejarah Wafatnya Sunan Kudus, Tradisi Buka Luwur Tak Dinamai Haul

Untuk jumlah porsi nasi yang tahun ini akan disiapkan, Kharis belum bisa menyebutkan jumlah pasti. Semuanya tergantung dari banyaknya jumlah shodaqoh yang diterima panitia untuk membuat nasi.

“Untuk penerimaan shodaqoh, kita memfasilitasi masyarakat shodaqoh untuk buka luwur. Banyak media yang kita terima, uang tunai, beras, hewan, kita terima. Nanti tanggal 10 Muharram, kami memfasilitasi masyarakat, berapa sumbangan yang masuk, kami panitia membantu memasak dan bagikan ke masyarakat,” jelasnya.

Kharis juga menceritakan, sebelum pandemi ada 32 ribu nasi jangkrik yang disiapkan. Namun di tahun 2020 saat pandemi Covid-19, ada 23 ribu nasi jangkrik yang dibagikan kepada masyarakat Kudus.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER